Assalamualaikum Wr. Wb.
Anaka-anakku Kelas IXC s.d. IXF laksanakan tugas sebagai berikut:
1. Susunlah sebuah cerita pendek (cerpen) dengan ketentuan:
a. Tema: Pandemi Virus Corona
b. Judul cerpen tepat
c. Panjang cerpen _+ 500 kata
d. Tokok pelaku minimal 3 orang
2. Jawaban disertai identitas ditulis pada kolom komentar di bawah postingan materi PJJ ini.
3. Kirimkan sebuah foto PJJ berseragam sekolah ke 081285540805.
4. Waktu PJJ pk. 07.00 s.d. 09.00 WIB
Selamat Mengerjakan!
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Nama: Mila Arum puspita
BalasHapusKelas: 9D
No absen: 15
PJJ BHS INDONESIA
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama;Noval pangestu
BalasHapuskelas:9d
absen:25
tugas bahasa indonesia
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Balas
NAMA :DWI SYAHRANI SUCI
HapusKELAS :9F
NO.ABSEN :12
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Nama:M.Nur.Arifin.Ilham
BalasHapusKelas:9D
No:19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Nama : Ririn triani
BalasHapusKelas : 9D
Nomor absen : 32
Tugas : B.Indonesia
•Cerpen tentang Pandemi Covid-19•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama : Fenia Ardani
BalasHapuskelas : IX-D (9D)
No. Absen : 09
_________________________________________
Tema : Virus Corona
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama : Syarifah Nurul Handayani
BalasHapusKelas : 9C
Nomor absen : 35
Tugas : B.Indonesia
*Cerpen tentang Pandemi Covid-19*
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
nama : allyne rachmanda putri
BalasHapuskelas : 9d
absen : 2
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Figo Ammarulloh
BalasHapusKls:9D
Absen:10
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
NAMA: HELMA CEPTIANA KUSUMA RATRI (13)
BalasHapusKELAS:IX D
Corona Membunuh Manusia bukan
Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
nama: sherena rhaisa auraria
BalasHapuskelas:9D
no absen:34
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama : Restu Yuandea Rizqy
BalasHapusKelas : 9E
Nomor absen : 32
Mapel : Bahasa Indonesia
<• Cerpen tentang Pandemi Covid-19 •>
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama: Alya Amanda Putri
BalasHapusKelas: 9C
No absen: 05
Pandemi Corona atau coronavirus disease 2019 (covid 19) memberikan banyak pelajaran berharga dalam setiap sendi kehidupan. Sebagian besar karyawan melaksanakan work from home (WFH) dan para siswa juga “memindahkan’ kegiatan belajar di rumah, secara online. Ini semua sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi dampak penyebaran virus corona. Dan seperti yang telah ditetapkan, kegiatan belajar dari rumah ini pun masih akan berlangsung.
Pemindahan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah ini, sebagai upaya untuk menjaga jarak sosial, Mau tak mau membuat para orang tua mempunyai peran yang baru, yakni sebagai guru dadakan. Itu artinya, para orang tua lah yang menjadi garda terdepan untuk membimbing proses kegiatan belajar hingga pandemi ini berakhir.
Dengan segala keterbatasan yang ada, tidak mengherankan jika para orang tua menemui banyak kendala dalam pelaksanaannya. Tengok saja, hampir sebagian besar laman sosial media mengunggah suka dan duka para orang tua yang menjadi guru dadakan untuk membimbing anak-anaknya belajar di rumahnya masing-masing.
Tidak hanya jeritan hati atau duka yang dirasakan orang tua yang menjadi guru dadakan di rumah, namun tidak sedikit juga yang bersuka hati menjadi guru dadakan membimbing anak-anaknya belajar dari rumah. Nah, mau tahu apa saja suka duka belajar online saat pandemi corona?
Para orang tua memang tidak semuanya memiliki kesiapan untuk menjadi pembimbing belajar online untuk anak-anaknya. Tanggapan positif banyak dikemukakan, mulai dari kedekatan secara psikologis dengan anak lantaran membimbing secara langsung proses belajar online; mengetahui perkembangan akademis anak dan menumbuhkan kebersamaan serta membangun komunikasi yang baik dalam lingkungan rumah.
Bagi orang tua yang biasanya menganggarkan katering untuk bekal sekolah anak, saat ini bisa menghemat anggaran untuk dialokasikan kepada kebutuhan lainnya.
Nama: Neina Maya Khairunisa
BalasHapusKelas : 9D
Senin 2/11/2020
Indah akan Tiba Waktunya
Panasnya siang seperti memanggang seluruh tubuh Pak Amat. Keringat mengalir deras di sela-sela topinya. Handuk yang melingkar di lehernya pun tampak basah. Pak Amat memegang ujung handuknya untuk mengelap keringatnya. Ia mendesah panjang melihat gerobak mi ayamnya. Gulungan mi yang berada di baskom baru berkurang dua. Biasanya saat makan siang, gulungan mi itu sudah hampir habis.
Sudah seminggu ini dagangannya sepi. Sejak virus corona datang, perlahan dagangannya menjadi sepi. Semakin hari semakin berkurang pembelinya. Pintu-pintu gang menuju permukiman ditutup sehingga ia tidak bisa keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain. Belum lagi ia harus berpikir ulang ketika harus masuk melalui gang utama. Semprotan disinfektan bisa saja menempel di mi atau sayurannya.
Terlalu panas, katanya dalam hati. Ia melihat sebuah pos ronda dan dengan cepat melaju ke arahnya. Ia duduk dan mengeluarkan sebotol air. Aduh, sampai kapan harus begini? katanya dalam hati lagi. Ini satu-satunya mata pencahariannya. Apa yang harus ia lakukan jika PSBB benar-benar diterapkan di kotanya. Otaknya seperti tak bisa berhenti berpikir mencari jalan agar ia dan anak-anaknya tetap bisa hidup selama wabah corona ini.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang mendekati gerobak mi ayamnya. "Pak, beli, Pak. Empat bungkus ya," kata salah seorang anak.
"Komplit ya?" tanya Pak Amat.
"Iya, Pak. Ekstra pangsit ya, Pak."
Salah satu anak yang duduk di boncengan mendekati gerobak mi ayam. "Sepi ya, Pak."
"Iya, mas. Tapi alhamdulillah masih ada yang beli kok," kata Pak Amat tersenyum terpaksa.
"Terus, kalau sisa, mi-nya diapakan, Pak? Bukannya mi hanya bisa bertahan sehari saja, Pak?"
"Sisanya dimakan sendiri, Mas. Ya mau bagaimana lagi, daripada terbuang sia-sia."
"Apa tidak bosan makan mi ayam setiap hari, pak?" tanya salah seorang anak yang lain.
"Ya bosan, Mas. Anak saya sampai bilang mukanya sudah mirip gulungan mi." Pak Amat tertawa.
Kedua anak itu terdiam melihat Pak Amat menyiapkan pesanan. "Yang sabar ya, Pak. Kalau nanti coronanya sudah pergi, pasti orang-orang jadi panic shopping. Setiap ada penjual lewat dibeli."
"Panic shopping?" tanya Pak Amat heran.
"Iya, Pak. Kalap mata karena lama di dalam rumah. Apa-apa dibeli," kata anak laki-laki itu.
"Iya, Pak. Bapak sebaiknya di rumah saja bila semakin sepi, Pak. Bapak juga harus menjaga kesehatan agar nanti bisa jualan lagi setelah situasi membaik, Pak," kata yang lainnya menimpali.
"Betul, Pak. Daripada rugi juga, Pak, sudah mengeluarkan modal dan harus makan mi ayam setiap hari."
Pak Amat terdiam mendengar saran kedua anak muda itu. Ada benarnya juga kata mereka. Ia terdiam sambil terus menyiapkan pesanannya.
"Ini, Mas," kata Pak Amat sambil memberikan bungkusan pesanannya.
"Harganya sama kan, Pak? Untuk Bapak saja kembaliannya," kata salah satu anak menyerahkan uang seratus ribuan.
"Ini banyak sekali, Mas," kata Pak Amat terharu.
"Kita juga jarang jajan kok, Pak," kata anak itu tersenyum. "Yang sabar ya, Pak. Allah tidak akan pernah menguji kita jika kita tidak mampu menghadapinya." Mereka pun berlalu.
Pak Amat terduduk lemas di pos ronda. Tiba-tiba airmatanya mengalir pelan. Ya Allah, kenapa aku harus mencemaskan hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan karena Engkau pasti menjamin rejekiku, katanya di dalam hati. Ia menunduk agak lama di pos ronda itu. Setelah agak tenang, ia mendorong gerobaknya pelan, menuju ke rumahnya.
Nama: Dhiva Khailla Ashya
BalasHapusKelas:9C
No.absen:11
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama : Chefira Bunga Ramadhani
BalasHapusKelas : 9E
No. Absen : 10
•| Cerpen tentang Pandemi Covid-19 |•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama : Ita nur azizah
BalasHapuskelas : IX-D
No. Absen : 14
_________________________________________
Tema : Virus Corona
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama: Juliet Elisa Sindy Wattilah
BalasHapusKelas: IX C
No Absen:17
Indah Pada Waktunya
Panasnya siang seperti memanggang seluruh tubuh bu lina. Keringat mengalir deras di keningnya. Handuk yang melingkar di lehernya pun tampak basah. Bu lina memegang ujung handuknya untuk mengelap keringatnya. Ia mendesah panjang melihat gerobak mi ayam suaminya, ia harus berjualan karena suaminya sedang sakit. Gulungan mie yang berada di baskom baru berkurang dua. Biasanya saat makan siang, suaminya sudah pulang karena gulungan mienya sudah habis.
Sudah seminggu ini dagangannya sepi. Sejak virus corona datang, perlahan dagangannya menjadi sepi. Semakin hari semakin berkurang pembelinya. Pintu-pintu gang menuju permukiman ditutup sehingga ia tidak bisa keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain. Belum lagi ia harus berpikir ulang ketika harus masuk melalui gang utama. Semprotan disinfektan bisa saja menempel di mi atau sayurannya.
Terlalu panas, katanya dalam hati. Ia melihat sebuah pos ronda dan dengan cepat melaju ke arahnya. Ia duduk dan mengeluarkan sebotol air. Aduh, sampai kapan harus begini? katanya dalam hati lagi. Ini satu-satunya mata pencahariannya. Apa yang harus ia lakukan jika PSBB benar-benar diterapkan di kotanya. Otaknya seperti tak bisa berhenti berpikir mencari jalan agar ia dan anak-anaknya tetap bisa hidup selama wabah corona ini.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang mendekati gerobak mi ayamnya. "Bu, beli, bu. Empat bungkus ya," kata salah seorang anak.
"Komplit ya?" tanya bu lina.
"Iya, bu. Ekstra pangsit ya, bu."
Salah satu anak yang duduk di boncengan mendekati gerobak mi ayam. "Sepi ya, bu."
"Iya, mas. Tapi alhamdulillah masih ada yang beli kok," kata bu lina tersenyum terpaksa.
"Terus, kalau sisa, mi-nya diapakan, bu? Bukannya mi hanya bisa bertahan sehari saja, bu?"
"Sisanya dimakan sendiri, Mas. Ya mau bagaimana lagi, daripada terbuang sia-sia."
"Apa tidak bosan makan mi ayam setiap hari, bu?" tanya salah seorang anak yang lain.
"Ya bosan, Mas. Anak saya sampai bilang mukanya sudah mirip gulungan mi."bu lina tertawa.
Kedua anak itu terdiam melihat bu lina menyiapkan pesanan. "Yang sabar ya, bu. Kalau nanti coronanya sudah pergi, pasti orang-orang jadi panik shopping. Setiap ada penjual lewat dibeli."
"Panik shopping?" tanya bu Lina heran.
"Iya, bu. Kalap mata karena lama di dalam rumah. Apa-apa dibeli," kata anak laki-laki itu.
"Iya, bu. Ibu sebaiknya di rumah saja bila semakin sepi, bu. Ibu juga harus menjaga kesehatan agar nanti bisa jualan lagi setelah situasi membaik, bu," kata yang lainnya menimpali.
"Betul, bu. Daripada rugi juga, bu, sudah mengeluarkan modal dan harus makan mi ayam setiap hari."
Bu lina terdiam mendengar saran kedua anak muda itu. Ada benarnya juga kata mereka. Ia terdiam sambil terus menyiapkan pesanannya.
"Ini, Mas," kata bu lina sambil memberikan bungkusan pesanannya.
"Harganya sama kan, bu? Untuk ibu saja kembaliannya," kata salah satu anak menyerahkan uang seratus ribuan.
"Ini banyak sekali, Mas," kata bu lina terharu.
"Kita juga jarang jajan kok, bu," kata anak itu tersenyum. "Yang sabar ya, bu. Allah tidak akan pernah menguji kita jika kita tidak mampu menghadapinya." Mereka pun berlalu.
Bu lina terduduk lemas di pos ronda. Tiba-tiba airmatanya mengalir pelan. Ya Allah, kenapa aku harus mencemaskan hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan karena Engkau pasti menjamin rejekiku, katanya di dalam hati. Ia menunduk agak lama di pos ronda itu. Setelah agak tenang, ia mendorong gerobaknya pelan, menuju ke rumahnya.
Nama:Surya
BalasHapusKelas:9c
Absen:34
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Nama:Aqiva Nur Azizah
BalasHapusKelas:9D
No absen:05
°cerpen tentang covid-19°
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama : Saskia Khairun Nisa
BalasHapusKelas : 9C
No : 32
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Billie Firjatullah
BalasHapusIX.C
9
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Dhafiyah indira
BalasHapusKelas:9f
No. Absen:8
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online
Nama : annajwa zahra
BalasHapusKelas: 9e
Absen: 06
Judulnya:covid-10
Ratusan ribu petugas kesehatan,termasuk dokter dan staf paramedis,berjuang sepanjang waktu untuk menahan penyebaran virus corona di seluruh dunia.Mereka menghabiskan malam tanpa tidur dan bahkan mempertaruhkan hidup mereka sendiri untuk menyelamatkan mereka yang terinfeksi virus mematikan serta mereka yang dirawat di ruang isolasi rumah sakit untuk menunjukkan gejala pandemi.
Mereka mendapatkan pengalaman yang unik dan beragam ketika berurusan dengan pasien yang sebenarnya dan yang dicurigai dari semua kelompok umur dan memiliki sifat kepribadian yang beragam.Mereka juga berjuang untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan mereka yang hidup dalam isolasi medis. Nour Al-Jarbaa,seorang dokter di fasilitas kesehatan di Kerajaan Arab Saudi, adalah satu di antara mereka.
"Dokter,apakah saya akan mati karenacoronavirus?" kata Al-Jarbaa menirukan pertanyaan yang sering diulang pasien,seperti dikutip dari Saudi Gazette
“Kami berjuang untuk menenangkan perasaan mereka yang terganggu,dengan meyakinkan mereka bahwa tidak perlu khawatir karena kami menawarkan mereka perawatan terbaik.Ini membantu mengurangi kecemasan mereka dan membuat mereka tidur lebih baik,” kata Al-Jarbaa menambahkan.
Al-Jarbaa mengatakan dia dan rekan-rekannya bertemu dengan sejumlah orang yang terinfeksi virus yang datang dari Kuwait dan Bahrain dan mereka diisolasi."Kami mengambil sampel dari mereka dan mengirim beberapa dari mereka pulang yang hasil tesnya negatif,sementara yang lain tetap dalam isolasi meskipun tidak ada gejala," katanya menambahkan bahwa siapa pun yang dinyatakan positif langsung dikarantina.
Al-Jarbaa mengatakan sebagian besar pasien tidak mengetahui penyakit ini meskipun mereka tertular melalui kontak.“Orang yang terinfeksi berbeda satu sama lain dalam menerima berita karena beberapa dari mereka pada awalnya menolak dan kemudian menerima kondisi mereka dan setuju untuk perawatan.”
Al-Jarbaa menunjukkan bahwa perawatan dimulai dengan antibiotik.“Responsnya sangat baik ketika kami mulai dengan antibiotik untuk malaria," ujarnya.
Dia juga mengingat kisah salah seorang pasiennya.“Seorang pria muda membuat janji karena ada gejala corona dan dirujuk untuk diisolasi.Ketika saya memeriksanya dan berbicara kepadanya tentang riwayat kesehatannya,menjadi jelas bahwa dia tinggal di sebuah apartemen sendirian.Dia makan takeaway sehari sebelumnya,dan setelah makan dia mengalami gejala suhu tubuh tinggi dengan diare dan sakit tenggorokan," ujar Al-Jarbaa.
Al-Jarbaa melanjutkan kisahnya,"Saya mengambil sampel karena dia bepergian seminggu yang lalu,dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia kemungkinan besar menderita keracunan makanan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Dia meminta saya meyakinkan ibunya karena dia sangat khawatir tentang kondisinya. Ketika hasil tes medis datang,ditemukan bahwa ia tidak terinfeksi virus," ujarnya.
Al-Jarbaa juga menceritakan pengalaman bertemu dengan pria muda lain yang datang menjerit dan meminta untuk segera menemui dokter.“Menjadi jelas bahwa dia tidak menderita penyakit itu, dan dia pergi ke rumahnya dengan tenang dan tenang,” tambahnya.
MULYA ZAID NUR MUHAMMAD
BalasHapusKELAS : 9D (22)
Corona, Oh Corona
Berita tentang virus Corona sudah sampai ke kampung Sari Asih. Memang virus ini menjangkiti negara Cina. Walau di sana sudah diantisipasi warganya , tentu penyebarannya tak bisa dielakan karena mobilitas manusia yang begitu cepat di area modern ini. Dan banyak berita yang simpang siur tentang virus ini membuat banyak masarakat bingung . Karena entah berita mana yang benar dan mana yang salah. Semua jadi satu
Entah mengapa di saat penyakit ini menyebar berita bohong banyak beredar di negeri ini. Ini yang membuat suasana kampung Sari Asih mencekam. Sedikit orang batuk, langsung mereka disiolasi , tak boleh keluar dan makanpun harus di kamar saja. Pokoknya masarakat sana sudah dilanda ketakutan .
Ketakutan itu membuat mencekam suasana desa. Semua orang saling mencurigai satu sama lain, kalau ada yang batuk atau sesak nafas. Aktivitas mereka sehari-hari selalu menggunakan masker. Bahkan mencangkul di sawah mereka tertib menggunakan masker. Agar tubuh mereka sehat , mereka harus mengeluarkan kocek sedikit besar untuk membeli buah-buahan. Katanya buah-buahan ini banyak vitamin yang bisa jaga kesehatan.
"Kapan sih penyakit ini hilang. Lama sekali. Tahu gak uangku lama-lama habis buat beli buah-buahan,"tukas pak Soleh.
"Iya, semua takut kena corona yang mematikan itu."
"Tapi apa benar mematikan?"
"Lah , katanya berita sih begitu. Baca saja di media online."
"Aduh, kalau begini terus hidup kita bagaiamana ya?" Begitulah semua warga merasa kebingunan dengan virus Corona ini. Mereka takut dengan apa yang diberitakan di media online.
Beberapa orang yang terkena batuk sudah diisolasi. BEberapa sembuh tapi yang batuk semakin banyak.
NAMA:Ahmad ardiansyah
BalasHapuskls:9c
No absen:2
Cerpen : Corona Membunuh Manusia Bukan Kemanusiaan.
- Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Ia membuka bungkusan itu, terlihat ada 5 buah gorengan yang sudah dingin. Ia melahap satu buah gorengan ubi yang ada dalam koran pembungkus dan sambil memikirkan anak dan istrinya di rmh akhirnya hari sudah semakin sore Pak Tumin akhirnya pulang kerumah dan bertemu keluarganya ia memakan cilok yg tidak laku itu.
"TUHAN MENGAJARKAN KITA SEMUA DENGAN ADANYA VIRUS INI(CORONA)"
SELESAI.
Nama: Hafi Dotul Lutfiah
BalasHapusKelas: 9c
Absen: 15
Tanggal: senin,2 nov
---------------------------------------
Cerita Yusuf Melawan Corona, Antara Diri Sendiri, Keluarga dan Teman.
=Semakin tingginya angka pasien virus corona yang terus bertambah baik di Indonesia dan Jawa Barat, membuat pandemi virus corona ini terus menjadi momok yang menyeramkan.
Masyarakat perlu untuk mengetahui bahwa ada pasien yang berhasil sembuh dari Covid-19. Seperti halnya, Yusuf Ridwansyah, pasien positif virus corona di Jawa Barat (Jabar), yang diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung setelah dinyatakan pulih.
Yusuf mengungkapkan, Ia telah melakukan test swab dan proses PCR (Polymerase Chain Reaction) sebanyak tiga kali di RSUP dr Hasan Sadikin. Hasil tes pertama adalah positif. Sedangkan, hasil tes kedua dan ketiga, negatif. Maka itu, Yusuf diizinkan pulang dan kembali melakukan isolasi mandiri di rumah.
"Saya pernah jadi angka ke-11 di Jawa Barat, ke seratus tiga puluh sekian di Indonesia. Semoga tidak jadi sekadar angka, karena itu adalah manusia yang tengah berjuang melawan virus, bagaimanapun keadaannya," ucap Yusuf, Rabu (1/4/20).
"Saya pun turut bahagia, bisa meningkatkan kualitas angka angka dengan berkontribusi terhadap jumlah pasien yang dinyatakan sembuh. Ini berita bahagia, karena coronavirus tak hanya tentang kematian. Tapi ada kehidupan di dalamnya," tambahnya.Sebelum dinyatakan positif virus corona, kata Yusuf, Ia tidak mengalami gejala-gejala penyebab Covid-19. Akan tetapi, karena memiliki interaksi sosial tinggi dan rentan terpapar virus, Yusuf mengikuti proaktif tes yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jabar, Minggu (14/3/20).
"Saya pasien positif ke-11 di Jabar. Saya tidak langsung ke rumah sakit, bukan karena apa-apa, cuma kamar isolasinya penuh," ujar Yusuf.
"Saya dijemput pakai ambulans lengkap (sehari setelah dinyatakan positif). Sopir dan pendamping semua pakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Saya masuk ambulans dan tidak berbicara apapun," imbuhnya.
Menurut Yusuf, tenaga kesehatan yang menangani virus corona paham betul akan prosedur medis. Dari mulai proses penjemputan sampai perawatan. Selain itu, dokter dan perawat rutin menginformasikan beberapa hal penting soal virus corona.
"Kemudian, dokter dan perawat, cek suhu, oksigen, itu dua kali satu hari. Cek darah dan macam-macam tiga hari sekali. Cek juga apakah ada pneumonia," katanya.Bagi Yusuf, semua orang mesti bahu-membahu melawan Covid-19. Pasien positif dan tenaga medis berjibaku di rumah sakit. Sementara yang lain bertanggung jawab pada diri sendiri, keluarga, rekan, dan lingkungan.
Bentuk tanggung jawab itu terwujud dalam physical distancing sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.
"Kita punya potensi menularkan ke yang lain. Sebenarnya, penyakit ini bukan penyakitnya tapi penyebarannya. Jadi, kita bertanggung jawab dengan semua sikap kita. Bukan tentang kita, tapi orang sekeliling kita," katanya.
Selain Yusuf, 10 pasien positif virus corona di Jabar sudah dinyatakan sembuh. Adapun di Indonesia, 112 pasien positif virus corona telah pulih.
Hingga saat ini, tercatat kasus pasien positif virus corona di Jabar berjumlah 223, 11 orang dinyatakan sembuh dan 21 orang meninggal dunia.
Nama: Fairuz Javier
BalasHapusKelas:9D
No:2
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Nama: Bagas aliefya Kurniawan
BalasHapusKelas:9c
No:8
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Chantika Salsabila
BalasHapusKelas:9E
No absen:9
*TEMA*:cerpen covid-19 I Gede Joni Suhartawan
AKU CUMA INGIN BERTANYA
Oleh: I Gede Joni Suhartawan
“Bapa,[1]] Aku sudah di bus menuju pulang!”
Kami sekeluarga bersorak syukur! Suara Wayan Dharma di ujung ponsel juga terdengar penuh kelegaan dan kegembiraan. Ya, sebentar lagi kami bakal bertemu si sulung, setelah bertahun-tahun ia bekerja di kapal pesiar. Sebenarnya ia bisa pulang enam bulan sekali. Putus kontrak dan melamar lagi beberapa bulan sesudahnya di perusahaan yang sama atau yang lain.[2]] Tapi Wayan tidak. Ia memilih melanjutkan kontrak dan melanjutkan lagi, hingga baru sekarang ia akan pulang. Kepulangannya kali ini pun bukan karena masa kontrak habis. Semua pekerja dipulangkan karena kehadiran tamu yang tidak terhormat, namanya Virus Corona!
Wayan, begitu kami memanggilnya, memang anak yang sangat perhatian pada keluarga. Ia mengerti betul bahwa dirinya lahir dari keluarga buruh tani yang sangat berkekurangan. Ia juga mengerti betul bagaimana kami, orang tuanya, jungkir balik berusaha menyekolahkannya. Awalnya ia sendiri bersikeras tidak mau melanjutkan sekolah, biar dua adiknya saja. Ia mau membantu orangtua mengais rezeki di sawah-sawah para juragan. Syukurlah, akhirnya ia mau mengerti bahwa demi masa depan anak, kami rela mempertaruhkan segalanya. Syukurlah ia mau memahami harapan kami, bahwa sebagai anak sulung ia harus menjadi contoh buat adik-adiknya, dan kalau mungkin mengentaskan mereka. Bagaimanapun, orang yang berpendidikan baik, besar kemungkinan mendapat kedudukan dan penghasilan yang lebih tinggi. Dengan begitu ada harapan kami sekeluarga bisa keluar dari himpitan kemiskinan ini.
Jadilah Wayan bersekolah, tidak sampai perguruan tinggi memang, tapi cukup sekolah yang langsung bisa mendapat pekerjaan dan bergaji bagus. Singkat cerita Wayan menjadi awak kapal pesiar setelah menamatkan sekolah pariwisata. Kami bersyukur waktu melepasnya ke laut luas, meninggalkan kami, meninggalkan desa ini, berlayar dari satu benua ke benua yang lain.
Hanya dalam tempo enam bulan kami sudah dapat melunasi utang-utang, baik biaya training, biaya pemberangkatan Wayan, juga utang kami di warung. Tentu saja yang melunasi si Wayan, sulung kami itu! Bahkan setahun kemudian, kami sudah bisa memperbaiki rumah dan membeli sawah! Pendeknya, dari melaut Wayan Dharma mampu membelikan sebidang tanah yang kini kugarap sendiri. Kini aku bukan buruh tani lagi! Wayan Dharma, sulung kami, dia-lah pahlawan keluarga!
“Bapa, kami ditolak masuk oleh warga!”[3]]
“Apa?!”
“Mereka menghadang. Tidak membolehkan bus yang membawa kami masuk. Kami bahkan dilarang turun dari bus!” suara Wayan di ponsel terdengar putus asa. Pasti dia dan kawan-kawan pekerja migran di dalam bus itu kelelahan. Bagaimana kalau kebelet pipis? Apa harus pipis di dalam bus yang sedang berhenti? Katanya itu dilarang.
nama:aditya firdaus prasetyo
BalasHapuskelas:9c
absen:1
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Nama:Muhammad Cahiril Sadat
BalasHapusKelas:9D
Absen:16
PJJ BHD INDONESIA
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama Calvin ramadhan darmawan absen 10 kelas IXC
BalasHapusTema : Virus Corona
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
BalasHapusNama:Guntur pratama
Kelas:9C
Absen:14
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama : Syauqi Rizqullah
BalasHapusKelas : 9-C
No.Absn : 36
Virus Covid 19
Virus Corona sudah sampai ke Indonesia dari hanya dua orang yang terjangkit virus Covid19, kini sudah sangat banyak orang yg terjangkit virus tersebut. Begitu Maha dahsyatnya virus ini. Memang virus ini menjangkiti negara Cina. Walau di sana sudah diantisipasi warganya ,
tentu penyebarannya tak bisa dielakan karena mobilitas manusia yang begitu cepat di area modern ini. Dan banyak berita yang simpang siur tentang virus ini membuat banyak masarakat bingung. Karena entah berita mana yang benar dan mana yang salah. Semua jadi satu.
Entah mengapa di saat penyakit ini menyebar berita bohong banyak beredar di negeri ini. Ini yang membuat suasana Di negara kita tercinta semakin mencekam. Ada sedikit orang yang batuk, langsung mereka disiolasi ,tak boleh keluar dan makanpun harus di kamar saja. Pokoknya masarakat dimana-mana sudah dilanda ketakutan.
Ketakutan itu membuat mencekam suasana di desa/kota-kota lainnya. Semua orang saling mencurigai satu sama lain, kalau ada yang batuk atau sesak nafas. Aktivitas mereka sehari-hari selalu menggunakan masker. Agar tubuh mereka sehat, mereka harus mengeluarkan kocek sedikit besar untuk membeli buah-buahan. Katanya buah-buahan ini banyak vitamin yang bisa menjaga imun kita dan kesehatan tubuh. Namun bagi orang yang tidak mampu membelinya akan merasa sedih, mereka tidak dapat menjaga imun mereka dengan baik. Untung sudah ada banyak orang yang mempunyai hati mulia dan bantuan sosial dari pemerintah untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Lebih-lebih orang yang tidak mampu.
Semoga pandemi ini cepat berlalu Aminn...
Nama:Bintang Devandi
BalasHapusKelas:9D
Absen:7
seiring virus corona gencar-gencarnya mengintai dan menghatam tubuh dan psikis masyarakat. Akupun cemas. Terkadang berhalusinasi tidak karuan. Meskipun sudah ada himbawan penguasa negeri untuk tetap tenang dan berdiam diri dirumah agar aman.
Khayalku bukan kecemasan atau ketakutan akan kematian karena virus corona. Melainkan asa cinta larangan yang tak tahu mengapa terjadi dan harus diapakan. Rasa cinta itu sangat kuat, terkadang menyesakan dada. Ingin rasanya aku terabas akar, lalang yang menghadang, meskipun aku tahu itu mustahil dilakukan.
Aku sadar, akar dan lalang itu tak dapat aku terabas. Karena itu memasuki hutan larangan. Meskipun nekad keinginan itu wujudkan, akupun tak punya alat untuk membabat itu semua. Inilah yang terjadi pada cintaku. Aku dilanda rasa cinta pada Sehati, gadis Dusun Raja Larangan yang masih milik orang lain. Sama pada diriku juga masih milik orang lain. Tapi harus bagaimana lagi, ini soal rasa cinta. Soal misterius problem yang hingga jutaan tahun umur dunia ini, belum juga mendapat jawaban akan kemisteriusan akan rasa cinta itu.
“Apakah aku nafsu? Rasanya tidak juga. Aku hanya inginkan Sehati dan hanya Sehati”. Ungkapan itu acap kali di khayalku. Bukannya tak ku coba untuk mencari jawaban, kenapa rasa cintaku ke Sehati itu harus ada. Bukankah kembang tidak setangkai? Renunganku hingga musim virus corona kian melanda Negeri Bengkulu ini, belum juga menemukan solusi dan konklusi.
Akhir-akhir ini aku sempat tertawa sendiri dalam hati, kenapa hantaman rasa cintaku pada Sehati ini mirip dengan dampak virus corona. Soal ini aku ceritakan pada Bedi temanku. Bukannya malah simpati, tapi tawaan terbahak-bahak yang kuterima saat Bedi yang bertandang pagi ini kerumahku, mendengar cerita soal rasa cinta mirip dengan dampak virus corona saat ini.
Aku yakin tak ada maksud dari temanku Bedi mengejek. “Ada-ada saja kamu ini Bro. Masa rasa cinta pubertas kedua Bro ini mirip virus corona? Kalau itu benar, Bro bisa di lockdown”, katanya sembari tertawa terbahak-bahak. Hampir tumpah secangkir kopi hitam diatas meja berenda rumah karena kegeliannya.
“Sumpahlah Bed. Itulah yang kupikirkan, setelah aku hubung-hubungkan antara kisah cintaku dengan kondisi yang menerpa saat ini”, jelasku sembari memandangi potret Sehati yang lagi sumringah menggoda.
“Gimana tu persamaannya?”
“Coba kamu fikir Bed. Aku setiap hari dalam benakku terlintas nama Sehati. Sementara aku tak bisa berbuat apa-apa, karena rasa cinta itu terbentur halangan dan larangan. Rasa cinta itu terus saja mengarungi fikiranku disetiap waktu. Sedangkan solusi hingga kini belum aku temui, selain diam, bertahan dan tahankan entah sampai kapan”.
Curahan hatiku pada Bedi membuatnya kembali ketawa sambil berkata, “Ini konyol...Ini konyol. Sehati itukan milik orang lain. Bro mencitainya tanpa sebab musabab. Ini merupakan irrasional yang memerlukan kajian khusus Bro”.
Perbincangan mendadak berhenti, saat melihat isteriku pulang dari pasar bersama kedua putriku. Berkilah, kamipun pura-pura bercakap soal bisnis tempuyak, sebagai makanan khas Bengkulu yang belum di boomingkan oleh pemerintah daerah.
“Ibarat pepatah anak muda zaman dahulu Bed, tempuyak dari Bengkulu. Celana koyak tampak bulu”, sembari kami tertawa menghilangkan kecurigaan isteri yang tampak sumringah masuk kedalam rumah.
Nama:Apriliani Setiawan
BalasHapusKelas:9-E
No.absen:7
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Muhammad Chairul Rizal
BalasHapusKelas:9c
No:21
*Cerpen tentang Pandemi Covid-19*
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama:MUHAMMAD RISALDY PRATAMA
BalasHapusKelas:9-C
No Absen:25
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Anisa meiliana
BalasHapusKelas:IX-D
No absen:04
Judul:Ketika Semua orang tidak jaga jarak
Nama saya Rizka,Saya mempunyai satu keluarga yang terdiri dari ayah,ibu,dan adik nama adik saya adalah cika.
Pada pagi hari ibu saya membangunkan saya yang sedang tidur dikamar saya,
dan dia berkata:
"cepat bangun kamu harus ikut ibu ke pasar".
setelah ibu saya berkata seperti itu saya langsung segera bangun dari tempat tidur,
dan saya langsung segera mandi dan sarapan pagi. setelah sarapan pagi saya,ibu dan adik saya cika langsung pergi kepasar untuk membeli sayuran dan lain-lain.
setelah saya dan ibu saya tiba di pasar,saya dan ibu saya terkejut melihat pasar di penuhi dengan orang yang ingin belanja.
ibu saya berkata:
"kenapa semua orang tidak menjaga jarak dan saling berkerumunan,Virus Corona ini kan belum hilang???".
lalu saya bertanya dengan ibu saya, "memangnya kenapa kalau semua orang berkerumunan bukannya semua orang ingin membeli kebutuhan mereka masing-masing ya bu??? ".
lalu ibu saya menjawab perkataan saya tersebut,
"Rizka Pemerintah itu melarang kita untuk berkerumunan seperti ini,kalau ingin ketempat yang banyak orang nya kita harus jaga jarak minimal 10 cm.dengan cara itu kita bisa menghindari Virus Corona".
Rizka yang dengan lugu nya menjawab:
"Ooh jadi seperti itu ya bu...,kalau begitu kita pulang saja bu kita kan tidak boleh berkerumunan".
lalu ibu hanya tersenyum dan berkata:
"kalau begitu kita beli belanjaannya di supermarket saja yang karena disini sangat banyak orang".
dan akhirnya saya,ibu saya dan cika berbelanja di supermarket didekat rumah.
Pentingnya selalu menjaga jarak dimanapun itu selama Virus Corona belum berakhir:).
Nama : Ryan Rafif Andaffa
BalasHapusKelas : 9D
No. Absen : 33
Membuat Cerpen Tentang Pandemi Virus Corona
Virus corona merupakan virus yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas ringan, hingga sedang seperti penyakit flu. Dikarenakan adanya pandemi virus corona, maka kami menerapkan sistem bekerja dari rumah, beribadah di rumah, serta belajar di rumah.
Adik ingin sekali jalan jalan keluar dan bermain karena bosan di rumah. Tetapi aku melarangnya untuk jalan jalan keluar maupun bermain di luar. Saat ini yang terbaik memang di rumah saja supaya tidak tertular covid 19. Ibu pun menjelaskan kalau kita keluar rumah bisa jadi kita ikut tertular virusnya, lalu menulari orang lain,rumah sakit jadi penuh, petugas medis jadi kewalahan.
Aku pun menjelaskan dan memberi tahu adik lebih baik kita di rumah saja, keluar rumah jika benar benar perlu ( Jarak Aman Minimal 1 Meter ), pakai masker jika sakit, rajin cuci tangan dengan air dan sabun serta makan makanan yang bergizi. Setelah aku dan ibu menjelaskan ke adik, adik pun mengerti kalau virus corona sangat berbahaya.
Di karenakan virus ini, saya dan keluarnya jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya dan adik meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah di berikan biasanya saya langsung bermain dengan keluarga saya kembali dan juga menonton tv.
Ayo Tetap Di Rumah Saja Demi Kesehatan Kita Bersama Lakukan Kegiatan Seru Bersama Keluarga.
Nama:Muhammad Irfan Tresna
BalasHapuskelas:9c
No absen:23
Cerpen:"Belajar dari Rumah Karena Covid-19"
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Muhammad Irfan Tresna
BalasHapuskelas:9c
No absen:23
Cerpen:"Belajar dari Rumah Karena Covid-19"
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Muhammad Irfan Tresna
BalasHapuskelas:9c
No absen:23
Cerpen:"Belajar dari Rumah Karena Covid-19"
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama : Ahmad saugih
BalasHapusKelas : 9D
Nomor absen :1
Tugas : B.Indonesia
•Cerpen tentang Pandemi Covid-19•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu
NAMA : RADYA HASNAINA HANIFAH
BalasHapusKELAS : 9C
NO ABSEN : 30
Virus Corona
Sejak Desember 2019, dunia telah dihebohkan oleh penemuan virus baru di China. Virus tersebut dikenal dengan nama virus corona. Dengan cepat virus ini menginfeksi banyak orang dan menyebabkan kematian di China. Banyak pula yang hanya terinfeksi dan kemudian sembuh. Tetapi virus ini seperti berpindah tempat, mewabahi dari satu negara ke negara yang lain.
Hingga akhirnya wabah ini tiba di Indonesia pada awal Maret 2020. Meski tampak lambat penyebarannya, tetapi hal ini menimbulkan kecemasan di seluruh Indonesia. Pengalaman yang diperoleh dari mengikuti berita, telah membuat kelangkaan masker dan hand sanitizer.
Begitu pula dengan sekolahku. Sekolahku mulai 16 Maret 2020 melakukan aktivitas belajar di rumah. Keputusan ini diambil oleh pihak komite sekolah. Berbeda dengan sekolah sepupuku yang tetap masuk pada tanggal 23 Maret 2020, padahal kami di yayasan yang sama.
Minggu pertama belajar di rumah sangat menyenangkan. Jadwal pelajaran daring diberikan seperti jadwal pelajaran di sekolah. Kami juga diminta untuk mengirimkan tugas dan absensi daring. Selain itu, aku bisa belajar dan bermain bersama adik-adikku di rumah. Yang paling aku sukai adalah aku dapat belajar sambil memakan cemilan yang disediakan oleh ibu.
Minggu ini adalah minggu ketiga aku belajar di rumah. Teman-temanku mulai malas mengumpulkan tugas, karena hampir setiap pelajaran kami diberi tugas. Aku pun juga merasakan yang sama. Tidak bisa bertemu dan becanda dengan teman-teman, membuat belajar di rumah terasa membosankan.
Aku sungguh berharap permasalahan COVID-19 ini dapat segera menemukan titik akhir. Aku sedih ketika melihat berita di televisi banyak orang yang terinfeksi, bahkan meninggal. Aku sedih mendengar ibu cerita bahwa harga kebutuhan sehari-hari naik dan langka. Aku sedih mendengar temanku yang ayahnya penjual mi ayam, sepi dagangannya hingga mereka makan mi ayam setiap hari agar tidak basi. Tetapi, aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga cobaan ini segera berlalu
semoga bermanfaat jadilah jawaban yang terbaik ya
NAMA: MUHAMAD MALIKY SALYA CAKRANINGRAT
BalasHapusKELAS: 9C
NO ABSEN : 20
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu
Nama : Larisa Eilen Elysia
BalasHapusKelas : IX-C
Nomor absen : 18
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama : Nidhiya Ridha Laili Sukarno
BalasHapusKelas : 9D
No. Absen : 24
Corona Oh Corona
_____________________________________________
Panasnya siang seperti memanggang seluruh tubuh Pak Amat. Keringat mengalir deras di sela-sela topinya. Handuk yang melingkar di lehernya pun tampak basah. Pak Amat memegang ujung handuknya untuk mengelap keringatnya. Ia mendesah panjang melihat gerobak mi ayamnya. Gulungan mi yang berada di baskom baru berkurang dua. Biasanya saat makan siang, gulungan mi itu sudah hampir habis.
Sudah seminggu ini dagangannya sepi. Sejak virus corona datang, perlahan dagangannya menjadi sepi. Semakin hari semakin berkurang pembelinya. Pintu-pintu gang menuju permukiman ditutup sehingga ia tidak bisa keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain. Belum lagi ia harus berpikir ulang ketika harus masuk melalui gang utama. Semprotan disinfektan bisa saja menempel di mi atau sayurannya.
Terlalu panas, katanya dalam hati. Ia melihat sebuah pos ronda dan dengan cepat melaju ke arahnya. Ia duduk dan mengeluarkan sebotol air. Aduh, sampai kapan harus begini? katanya dalam hati lagi. Ini satu-satunya mata pencahariannya. Apa yang harus ia lakukan jika PSBB benar-benar diterapkan di kotanya. Otaknya seperti tak bisa berhenti berpikir mencari jalan agar ia dan anak-anaknya tetap bisa hidup selama wabah corona ini.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang mendekati gerobak mi ayamnya. "Pak, beli, Pak. Empat bungkus ya," kata salah seorang anak.
"Komplit ya?" tanya Pak Amat.
"Iya, Pak. Ekstra pangsit ya, Pak."
Salah satu anak yang duduk di boncengan mendekati gerobak mi ayam. "Sepi ya, Pak."
"Iya, mas. Tapi alhamdulillah masih ada yang beli kok," kata Pak Amat tersenyum terpaksa.
"Terus, kalau sisa, mi-nya diapakan, Pak? Bukannya mi hanya bisa bertahan sehari saja, Pak?"
"Sisanya dimakan sendiri, Mas. Ya mau bagaimana lagi, daripada terbuang sia-sia."
"Apa tidak bosan makan mi ayam setiap hari, pak?" tanya salah seorang anak yang lain.
"Ya bosan, Mas. Anak saya sampai bilang mukanya sudah mirip gulungan mi." Pak Amat tertawa.
Kedua anak itu terdiam melihat Pak Amat menyiapkan pesanan. "Yang sabar ya, Pak. Kalau nanti coronanya sudah pergi, pasti orang-orang jadi panic shopping. Setiap ada penjual lewat dibeli."
"Panic shopping?" tanya Pak Amat heran.
"Iya, Pak. Kalap mata karena lama di dalam rumah. Apa-apa dibeli," kata anak laki-laki itu.
"Iya, Pak. Bapak sebaiknya di rumah saja bila semakin sepi, Pak. Bapak juga harus menjaga kesehatan agar nanti bisa jualan lagi setelah situasi membaik, Pak," kata yang lainnya menimpali.
"Betul, Pak. Daripada rugi juga, Pak, sudah mengeluarkan modal dan harus makan mi ayam setiap hari."
Pak Amat terdiam mendengar saran kedua anak muda itu. Ada benarnya juga kata mereka. Ia terdiam sambil terus menyiapkan pesanannya.
"Ini, Mas," kata Pak Amat sambil memberikan bungkusan pesanannya.
"Harganya sama kan, Pak? Untuk Bapak saja kembaliannya," kata salah satu anak menyerahkan uang seratus ribuan.
"Ini banyak sekali, Mas," kata Pak Amat terharu.
"Kita juga jarang jajan kok, Pak," kata anak itu tersenyum. "Yang sabar ya, Pak. Allah tidak akan pernah menguji kita jika kita tidak mampu menghadapinya." Mereka pun berlalu.
Pak Amat terduduk lemas di pos rendah. Tiba-tiba airmatanya mengalir pelan. Ya Allah, kenapa aku harus mencemaskan hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan karena Engkau pasti menjamin rejekiku, katanya di dalam hati. Ia menunduk agak lama di pos ronda itu. Setelah agak tenang, ia mendorong gerobaknya pelan, menuju ke rumahnya.
Nama: Yazid zidane leon nugraha
BalasHapusKelas: 9D
No.absen:36
Cerpen tentang "3sahabat"
Ada 3 sahabat sejati, yaitu Rista, Risti, dan Risky. Sama-sama ada risnya, ya. Karena itulah mereka menamakan kelompok mereka RIS. Siapa pun yang ada risnya, mereka bisa bergabung ke grup RIS baik itu perempuan maupun laki-laki. Mereka masih kelas 1 SMA. Nama sekolahnya SMA N 1 Simo. Pada suatu hari RIS memendam rasa cinta pada seorang pria. Pria itu kakak kelas mereka. Tapi sayang masing-masing dari mereka tidak tahu kalau cinta mereka sama.
Rista berangkat lebih awal dari Risti dan Risky. Hari ini adalah jadwal piketnya. Ia membersihkan kelas. Kemudian Risti dan Risky sudah datang.
“Hallo, Ta. Apa kabarmu?” sapa Risti dan Risky.
“Hallo juga. Aku baik.” balas Rista.
“Rajinnya kamu nyapu.” puji Risky.
“Dari dulu kali.” Risti dan Risky memainkan Hp-nya. Rista selesai nyapu. Ia menuju sahabatnya.
“Asyik sekali kalian mainin Hp, seperti tidak ada pekerjaan lain apa gitu.” ejek Rista.
Risti dan Risky merasa tersinggung. “Emang kamu ngapain?” tanya Risti agak marah.
“Jangan marah dong, aku kan cuma bercanda. Minta maaf ya.” pinta Rista.
“Oke, kami akan memaafkan kamu tapi ingat jangan ulangi lagi.” kata Risky.
Rista teringat pada satu hal, “Oh ya, aku mau cerita tapi nanti istirahat saja, ya.”
“Emang kamu mau cerita tentang apa, Ta?” Risti penasaran.
“Ya, pokoknya nanti.”
“Kenapa tidak sekarang?” tanya Risky.
“soalnya ini penting.”
Teng! teng! teng! saatnya istirahat. Rista mengajak sahabatnya ke belakang.
“Ris, kalian tahu tidak aku memendam rasa pada seorang pria.”
“Aku juga,” Risti-Rizky.
“Kalau begitu asyik dong. Bisa main tebak-tebakkan sama pria yang kita suka.” Risti-Rizky mengganguk.
“Kalau begitu aku dulu. Huruf pertama A, terakhir S dan jumlah huruf ada 4 serta dia kakak kelas kita, XI IPA-2. Ayo siapa tahu?”
“Afis,” jawab Risti.
“Azis,” Risky.
Rista menggelengkan kepala,” Ayo tebak lagi.”
“Aqis,” Risti lagi.
“Salah. Apa kalian nyerah? haha,” Rista. Kepala Risti-Risky menunduk nyerah.
“Jawabannya adalah…. Aris. Aris Muhammad Pratama.” seru Rista.
“Apa?” Risti-Risky serempak, “Itu kan cowok yang ku suka.”
“Jadi, kalian… juga suka.”
Risti-Risky mengangguk.
“Kalau begitu aku akan berhenti mencintainya. Lagi pula aku tidak pantas baginya. Dia juga belum tentu suka aku.”
“Aku juga.” Risti-Risky.
“Kita adalah sahabat sejati. Jadi, biarkan dia memilih cintanya. Aku percaya jodoh di tangan Allah.”
“Loh benar, Ta.”
“Iya aku juga sayang kalian. Kalian tidak akan biarkan ada sahabat yang cemburu. Mari kita berjanji tak akan menyembunyikan sesuatu terutama berkaitan dengan perasaan.” ucap Risti sambil memberikan jari kelingkingnya. Rista-Risky juga memberikan kelingkingnya.
Setelah kejadian itu, tidak rahasia di antara mereka. Mereka selalu menjaga kesetiaan persahabatan mereka. Suka atau duka selalu dirasakan bersama. Mereka beranggapan bahwa lebih baik menjaga persahabatan daripada cintanya kepada pria karena ini akan menimbulkan rasa cemburu dan benci hingga muncul permusuhan.
Nama:hikmah nur rohmah
BalasHapusKls:IX-F
No absen:16
Tema : Virus Corona
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama: Ardiansah Dwi Putra
BalasHapusKelas: IX-E
No absen:8
Pandemi Virus Corona
“Bapa,[1]] Aku sudah di bus menuju pulang!”
Kami sekeluarga bersorak syukur! Suara Wayan Dharma di ujung ponsel juga terdengar penuh kelegaan dan kegembiraan. Ya, sebentar lagi kami bakal bertemu si sulung, setelah bertahun-tahun ia bekerja di kapal pesiar. Sebenarnya ia bisa pulang enam bulan sekali. Putus kontrak dan melamar lagi beberapa bulan sesudahnya di perusahaan yang sama atau yang lain.[2]] Tapi Wayan tidak. Ia memilih melanjutkan kontrak dan melanjutkan lagi, hingga baru sekarang ia akan pulang. Kepulangannya kali ini pun bukan karena masa kontrak habis. Semua pekerja dipulangkan karena kehadiran tamu yang tidak terhormat, namanya Virus Corona!
Wayan, begitu kami memanggilnya, memang anak yang sangat perhatian pada keluarga. Ia mengerti betul bahwa dirinya lahir dari keluarga buruh tani yang sangat berkekurangan. Ia juga mengerti betul bagaimana kami, orang tuanya, jungkir balik berusaha menyekolahkannya.Ia mau membantu orangtua mengais rezeki di sawah-sawah para juragan. Syukurlah, akhirnya ia mau mengerti bahwa demi masa depan anak, kami rela mempertaruhkan segalanya. Syukurlah ia mau memahami harapan kami, bahwa sebagai anak sulung ia harus menjadi contoh buat adik-adiknya, dan kalau mungkin mengentaskan mereka. Bagaimanapun, orang yang berpendidikan baik, besar kemungkinan mendapat kedudukan dan penghasilan yang lebih tinggi. Dengan begitu ada harapan kami sekeluarga bisa keluar dari himpitan kemiskinan ini.
Jadilah Wayan bersekolah, tidak sampai perguruan tinggi memang, tapi cukup sekolah yang langsung bisa mendapat pekerjaan dan bergaji bagus. Singkat cerita Wayan menjadi awak kapal pesiar setelah menamatkan sekolah pariwisata. Kami bersyukur waktu melepasnya ke laut luas, meninggalkan kami, meninggalkan desa ini.
Hanya dalam tempo enam bulan kami sudah dapat melunasi utang-utang, baik biaya training, biaya pemberangkatan Wayan, juga utang kami di warung. Tentu saja yang melunasi si Wayan, sulung kami itu! Bahkan setahun kemudian, kami sudah bisa memperbaiki rumah dan membeli sawah! Pendeknya, dari melaut Wayan Dharma mampu membelikan sebidang tanah yang kini kugarap sendiri. Kini aku bukan buruh tani lagi! Wayan Dharma, sulung kami, dia-lah pahlawan keluarga!
“Bapa, kami ditolak masuk oleh warga!
“Apa?!”
“Mereka menghadang. Tidak membolehkan bus yang membawa kami masuk. Kami bahkan dilarang turun dari bus!” suara Wayan di ponsel terdengar putus asa. Pasti dia dan kawan-kawan pekerja migran di dalam bus itu kelelahan. Bagaimana kalau kebelet pipis? Apa harus pipis di dalam bus yang sedang berhenti? Katanya itu dilarang.
Aku terkesiap. Puspa, istriku, serta dua adik-adik Wayan, Kadek Dwiratna dan Komang Triwibawa, kulihat melongo sambil berpandang-pandangan. Baru saja kami begitu gembira bakal berjumpa dengan Wayan, si pahlawan itu, eh… terancam batal! Wayan mengabarkan bus sudah memasuki Karangasem, kabupaten yang mewilayahi desa kami tinggal, tetapi dicegat massa di Candidasa!
NAMA : REFAN ADITYA YOHANDI
BalasHapusKELAS : 9D
ABSEN : 31
*Membuat Cerpen Tentang Pandemi Virus Corona
Virus corona merupakan virus yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas ringan, hingga sedang seperti penyakit flu. Dikarenakan adanya pandemi virus corona, maka kami menerapkan sistem bekerja dari rumah, beribadah di rumah, serta belajar di rumah.
Adik ingin sekali jalan jalan keluar dan bermain karena bosan di rumah. Tetapi aku melarangnya untuk jalan jalan keluar maupun bermain di luar. Saat ini yang terbaik memang di rumah saja supaya tidak tertular covid 19. Ibu pun menjelaskan kalau kita keluar rumah bisa jadi kita ikut tertular virusnya, lalu menulari orang lain,rumah sakit jadi penuh, petugas medis jadi kewalahan.
Aku pun menjelaskan dan memberi tahu adik lebih baik kita di rumah saja, keluar rumah jika benar benar perlu ( Jarak Aman Minimal 1 Meter ), pakai masker jika sakit, rajin cuci tangan dengan air dan sabun serta makan makanan yang bergizi. Setelah aku dan ibu menjelaskan ke adik, adik pun mengerti kalau virus corona sangat berbahaya.
Di karenakan virus ini, saya dan keluarnya jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya dan adik meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah di berikan biasanya saya langsung bermain dengan keluarga saya kembali dan juga menonton tv.
Ayo Tetap Di Rumah Saja Demi Kesehatan Kita Bersama Lakukan Kegiatan Seru Bersama Keluarga.
Nama : NOURMA KUSUMA
BalasHapusKelas : IX (9C)
No.Absen : (28)
Berkat do'a
Diujung kesedihan sebuah keluarga yang menimpa mereka, Ketika mereka mengetahui bahwa salah satu dari mereka terkena covid-19,dan sudah dipastikan dari para dokter bahwa anak itu tidak bisa diselamatkan, walaupun semua medis melakukan untuk penyembuhannya dan salah satu dari mereka membantah berita tersebut yaitu sang ibu. Karena sang ibu yakin bahwa anaknya akan bisa pulang kerumah dengan selamat. Ayah yang melihat ibu menangis tidak ingin itu terus terjadi, ia memutuskan untuk memastikan keadaan anaknya yang terkena covid-19 setelah izin kepada ibu di rumah sakit Dakonemmiblackk. Setelah sampai dirumah sakit, ayah meminta kepada perawat yang disana untuk membawakan nya ketempat anaknya, sebelumnya ayah melakukan protokol kesehatan sebelum kerumah sakit seperti mencuci tangan dengan bersih, memakai masker, menggunakan handsinitizer, dan mengikuti tes swan. Setelah diantarkan oleh perawat, ayah dibawakan keruang rumah sakit untuk memastikan keadaan anaknya, tetapi hanya dari jendela kaca yang besar. Begitu pula dengan itu ayah terkejut betapa parahnya penyakit virus covid-19 ini yang menimpa anaknya yang masih berusia delapan tahun. Ia pun tampak bersedih dan tidak kuasa untuk memberi tahukan ini kepada ibu. Ayah pun memutuskan untuk pulang agar ia bisa berdoa bersama. Saat ayah pulang, ia meminta kepada ibu untuk doa bersama agar Tuhan mereka mencabut semua rasa sakit dan penyakit yang ada ditubuh anaknya, serta meminta kesembuhan dan pertolongan dari Tuhannya yang maha pengasih lagi penyayang. Mereka melakukan nya berulang-ulang hingga 2 Minggu berikutnya sudah berlalu. Dengan seluruh kekuatan mereka, kerjasama mereka yang hanya bisa berdoa dan memohon kepada Tuhannya agar diberikan kesembuhan pada anaknya, yang mereka lakukan itupun tidak sia-sia, karena Tuhannya yang pengasih dan maha penyayang itu mengabulkan doa mereka. "Wahai Allah yang maha kuasa, inilah berkatmu, kami berterima kasih kepada" kata ayah dan ibu. Setelah mendengar berita yang disampaikan bahwa anaknya siap untuk pulang dan kembali bersama-sama.
Nama: Nayla Chantica
BalasHapusKelas: 9C
No: 27
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah. Tetapi, banyak pelajaran yang tidak masuk ke dalam logika, contohnya pelajaran matematika yang menggunakan hitung" an dan rumus yang teliti
Tidak sedikit murid yang mengeluh bahwa belajar dirumah tugas semakin numpuk dan dengan waktu pengumpulan nya sangat sedikit. Biasanya jika tugas saya selesai saya membantu pekerjaan ibu seperti menyapu atau mengepel lantai
Nama: rabelia rahmah pasya
BalasHapusKelas:9f
Absen:31
Tema : Virus Corona
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama : Bagus aliefya kurniawan
BalasHapusKelas : 9f
Nomor absen : 6
Tugas : B.Indonesia
*Cerpen tentang Pandemi Covid-19*
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
NAMA:DIMAS FIRGIAWAN
BalasHapusKELAS:11
KELAS:9F
Cerpen tentang Pandemi WABAH COVID-19 (VIRUS CORONA)
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama:M Pasya Yuretza
BalasHapusKelas:9D
Absen:20
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Nama : Rangga Dwi Novianto
BalasHapusKelas : 9E
Nomor absen : 31
Mapel : Bahasa Indonesia
• Cerpen tentang Pandemi Covid-19 •
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama : NAINA AYURI TAERA
BalasHapusKelad : 9C No absen, : 26
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
☞ Cerpen tentang covid-19 ☜
ヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾヾ
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19,
Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Sekian dari saya terima kasih
♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪♬♪
Nama: Ahmad Yasin
BalasHapusKls :9C
No absen:3
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama: M. Iqbar
BalasHapusKelas: 9F
No absen: 20
Pandemi Corona memberikan banyak pelajaran berharga dalam setiap sendi kehidupan. Sebagian besar karyawan melaksanakan work from home (WFH) dan para siswa juga “memindahkan’ kegiatan belajar di rumah, secara online. Ini semua sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi dampak penyebaran virus corona. Dan seperti yang telah ditetapkan, kegiatan belajar dari rumah ini pun masih akan berlangsung.
Pemindahan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah ini, sebagai upaya untuk menjaga jarak sosial, Mau tak mau membuat para orang tua mempunyai peran yang baru, yakni sebagai guru dadakan. Itu artinya, para orang tua lah yang menjadi garda terdepan untuk membimbing proses kegiatan belajar hingga pandemi ini berakhir.
Dengan segala keterbatasan yang ada, tidak mengherankan jika para orang tua menemui banyak kendala dalam pelaksanaannya. Tengok saja, hampir sebagian besar laman sosial media mengunggah suka dan duka para orang tua yang menjadi guru dadakan untuk membimbing anak-anaknya belajar di rumahnya masing-masing.
Tidak hanya jeritan hati atau duka yang dirasakan orang tua yang menjadi guru dadakan di rumah, namun tidak sedikit juga yang bersuka hati menjadi guru dadakan membimbing anak-anaknya belajar dari rumah. Nah, mau tahu apa saja suka duka belajar online saat pandemi corona?
Para orang tua memang tidak semuanya memiliki kesiapan untuk menjadi pembimbing belajar online untuk anak-anaknya. Tanggapan positif banyak dikemukakan, mulai dari kedekatan secara psikologis dengan anak lantaran membimbing secara langsung proses belajar online; mengetahui perkembangan akademis anak dan menumbuhkan kebersamaan serta membangun komunikasi yang baik dalam lingkungan rumah.
Bagi orang tua yang biasanya menganggarkan katering untuk bekal sekolah anak, saat ini bisa menghemat anggaran untuk dialokasikan kepada kebutuhan lainnya.
Nama: Aflaha Oinori Hafiba
BalasHapusKelas: 9F
No: 02
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama: RAJWA FAIS PERDANA
BalasHapusKelas:9D
No:30
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama: Ardiansyah Ezra Pratama
BalasHapusKelas: 9-D
no.absen: 6
Tahun ini 2020 awalnya meriah tapi sejak munculnya virus Corona atau Covid 19 Semua berubah, Tempat yang biasanya ramai kini sepi karena pandemi , jalanan sepi, semua orang berada di rumah atas perintah pemerintah namun semakin hari orang² mulai bosan dgn Corona dan karena dirumah saja penghasilan mereka jadi sedikit bahkan ada yg di PHK seiring berjalannya waktu kantor kantor mulai dibuka tetapi sekolah blm boleh karena resiko. Pasar juga sudah buka tapi harus sesuai protokol kesehatan seperti ibu saya ketika pulang dari pasar.
Anak: Ibu sudah pulang
Ibu: iya ibu sudah pulang , tapi kamu jgn mendekat dgn ibu ya
Anak: kenapa Bu?
Ayah: Karena diluar banyak virus jadi kalo virusnya nempel di baju ibu harus mandi dan ganti baju
Anak: Hah? Virus apa itu?
Ibu: Virus Covid 19 nak dan itu sangat berbahaya karena menyerang saluran pernapasan dan bisa terjadi kematian
Anak: Oh gitu ya Bu Sekarang aku mengerti
Ayah: Bagus kalau begitu kamu harus jaga diri juga kalau mau keluar pakai masker
Anak: Baik Ayah!
Seperti percakapan diatas kita harus menjaga diri dgn baik namun kasus Corona di Indonesia belum jg mereda sampai sekarang semua masih Work from home sampai situasi membaik namun sekarang ada sedikit kelonggaran karena Mall dan tempat hiburan lainnya boleh dibuka tapi dibatasi hanya 50% saja kapasitas nya dan menggunakan masker selalu.
Nama : adila rein septini
BalasHapusKelas : 9f
Pel : b.indo
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama : Fayruuz Widiyanti
BalasHapusKelas : IX C
No Absen : 12
Membuat Cerpen bertema Virus Corona
" Desa Anti Corona"
Berita tentang virus corona ini telah menyebar di seluruh dunia. Pada awal bulan Maret, Indonesia masuk ke dalam negara yang terjangkit virus corona. Berita tentang virus corona pun sampai ke desa Maju Jaya.
Setelah berita tentang virus corona sampai ke desa Maju Jaya, banyak berita bohong dan simpang siur yang menyebabkan warga panik.
Pada akhirnya Budi kertajaya selaku Kepala Desa Maju Jaya mengadakan rapat di balai warga dengan syarat masyarakat wajib menggunakan masker. Rapat di balai warga diadakan untuk penyuluhan pencegahan virus corona oleh Puskesmas.
Pada siang hari, warga pun mulai mendatangi balai warga dengan menggunakan masker dan duduk dengan berjaga jarak.
Kepala Desa : " Selamat siang para warga Desa Maju Jaya, saya Budi Kertajaya sebagai Kepala Desa mengadakan rapat ini untuk mengadakan penyuluhan dari Puskesmas agar warga tidak panik dalam menghadapi wabah ini. Disini terdapat ibu Puji Widarti sebagai perwakilan dari Puskesmas yang akan menjelaskan tentang seputar virus corona. Bapak dan ibu diharapkan tertib selama rapat berlangsung"
Ibu Puji : " Selamat Siang, saya berencana memberikan penyuluhan tentang virus corona. Sebelumnya saya ingin mengubah desa ini menjadi sebutan desa anti virus corona. Oleh karena itu, bapak dan ibu diharapkan mengikuti protokol kesehatan. Diusahakan tidak bepergian keluar rumah jika tidak penting, selalu mencuci tangan, menggunakan masker jika keluar rumah dan berjaga jarak. Apakah sampai sini ada pertanyaan? "
Siswanto (warga) : " Apakah jika memakai masker kita tidak akan terkena virus corona? "
Ibu Puji : " Oke, menggunakan masker adalah sebagai pencegahan, bukan berarti kita tidak akan terkena tetapi akan menghindari terkena virus corona. Jadi memakai masker itu sangat penting pada saat ini. Saat ini kita dianjurkan untuk menggunakan masker kain agar bisa dicuci dan digunakan kembali. Apakah ada pertanyaan lagi?"
Susi (warga) : "Tidak bu, saya rasa sudah cukup jelas"
Kepala Desa : " Baiklah, rapat hari ini saya tutup. Diharapkan para warga menaati protokol kesehatan dan beberapa relawan berinisiatif untuk mengubah desa ini menjadi desa anti virus corona."
Setelah penyuluhan tersebut para warga tidak panik lagi dan selalu menaati protokol kesehatan yang berlaku. Mereka berharap pandemi akan segera berakhir dan hidup normal kembali.
Nama: Raditya Zaki Syahputra
BalasHapusKelas:9f
Absen:32
Tema : Virus Corona
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
nama :M.Rizkiawan alraihan
BalasHapuskelas : 9e
absen : 24
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:aisha nurul izzah
BalasHapuskelas:9E
absen: 1
---------------------------------------Indah akan Tiba Waktunya
Panasnya siang seperti memanggang seluruh tubuh Pak Amat. Keringat mengalir deras di sela-sela topinya. Handuk yang melingkar di lehernya pun tampak basah. Pak Amat memegang ujung handuknya untuk mengelap keringatnya. Ia mendesah panjang melihat gerobak mi ayamnya. Gulungan mi yang berada di baskom baru berkurang dua. Biasanya saat makan siang, gulungan mi itu sudah hampir habis.
Sudah seminggu ini dagangannya sepi. Sejak virus corona datang, perlahan dagangannya menjadi sepi. Semakin hari semakin berkurang pembelinya. Pintu-pintu gang menuju permukiman ditutup sehingga ia tidak bisa keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain. Belum lagi ia harus berpikir ulang ketika harus masuk melalui gang utama. Semprotan disinfektan bisa saja menempel di mi atau sayurannya.
Terlalu panas, katanya dalam hati. Ia melihat sebuah pos ronda dan dengan cepat melaju ke arahnya. Ia duduk dan mengeluarkan sebotol air. Aduh, sampai kapan harus begini? katanya dalam hati lagi. Ini satu-satunya mata pencahariannya. Apa yang harus ia lakukan jika PSBB benar-benar diterapkan di kotanya. Otaknya seperti tak bisa berhenti berpikir mencari jalan agar ia dan anak-anaknya tetap bisa hidup selama wabah corona ini.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang mendekati gerobak mi ayamnya. "Pak, beli, Pak. Empat bungkus ya," kata salah seorang anak.
"Komplit ya?" tanya Pak Amat.
"Iya, Pak. Ekstra pangsit ya, Pak."
Salah satu anak yang duduk di boncengan mendekati gerobak mi ayam. "Sepi ya, Pak."
"Iya, mas. Tapi alhamdulillah masih ada yang beli kok," kata Pak Amat tersenyum terpaksa.
"Terus, kalau sisa, mi-nya diapakan, Pak? Bukannya mi hanya bisa bertahan sehari saja, Pak?"
"Sisanya dimakan sendiri, Mas. Ya mau bagaimana lagi, daripada terbuang sia-sia."
"Apa tidak bosan makan mi ayam setiap hari, pak?" tanya salah seorang anak yang lain.
"Ya bosan, Mas. Anak saya sampai bilang mukanya sudah mirip gulungan mi." Pak Amat tertawa.
Kedua anak itu terdiam melihat Pak Amat menyiapkan pesanan. "Yang sabar ya, Pak. Kalau nanti coronanya sudah pergi, pasti orang-orang jadi panic shopping. Setiap ada penjual lewat dibeli."
"Panic shopping?" tanya Pak Amat heran.
"Iya, Pak. Kalap mata karena lama di dalam rumah. Apa-apa dibeli," kata anak laki-laki itu.
"Iya, Pak. Bapak sebaiknya di rumah saja bila semakin sepi, Pak. Bapak juga harus menjaga kesehatan agar nanti bisa jualan lagi setelah situasi membaik, Pak," kata yang lainnya menimpali.
"Betul, Pak. Daripada rugi juga, Pak, sudah mengeluarkan modal dan harus makan mi ayam setiap hari."
Pak Amat terdiam mendengar saran kedua anak muda itu. Ada benarnya juga kata mereka. Ia terdiam sambil terus menyiapkan pesanannya.
"Ini, Mas," kata Pak Amat sambil memberikan bungkusan pesanannya.
"Harganya sama kan, Pak? Untuk Bapak saja kembaliannya," kata salah satu anak menyerahkan uang seratus ribuan.
"Ini banyak sekali, Mas," kata Pak Amat terharu.
"Kita juga jarang jajan kok, Pak," kata anak itu tersenyum. "Yang sabar ya, Pak. Allah tidak akan pernah menguji kita jika kita tidak mampu menghadapinya." Mereka pun berlalu.
Pak Amat terduduk lemas di pos rendah. Tiba-tiba airmatanya mengalir pelan. Ya Allah, kenapa aku harus mencemaskan hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan karena Engkau pasti menjamin rejekiku, katanya di dalam hati. Ia menunduk agak lama di pos ronda itu. Setelah agak tenang, ia mendorong gerobaknya pelan, menuju ke rumahnya.
Nama: Marco Zahran Sirath
BalasHapusNo.Absen:22
Kelas:IX F
CERPEN:VIRUS CORONA MEMBUNUH MANUSIA BUKAN KEMANUSIAAN
:
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama: m.Latif Rifa'i Adivia
BalasHapusKelas: 9E
No absen: 19
PJJ BHS INDONESIA
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Didik Putra Perwira Negara
BalasHapusKelas:9F
No.Absen:9
Cerpen | Belajar dari Rumah Karena Covid-19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama: Ita Della
BalasHapusKelas:9E
absen:16
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu.
Nama : Alzena Azalia
BalasHapusKelas : 9C
Nomor absen : 7
Tugas : B.Indonesia
•Cerpen tentang Pandemi Covid-19•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu
Nama:Malika Dasiti
BalasHapusKelas:9f
No absen:21
Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak rafka terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak rafka: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak rafka seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak rafka: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak rafka: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak rafka: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak rafka: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak rafka: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak rafka sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak rafka sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama: ILHAM BAMBANG SAPUTRA
BalasHapuskelas:9f
no.absen:18
Corona Membunuh Manusia bukan
Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tugi terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah wartek kopi kecil pinggir jalan.
Pak tugi: Punten bu ngiring calik.
Ibu wartek: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu wartek: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tugi: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tugi pamit
Pak tugi: Ibu terimaksih
Ibu wartek: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tugi: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu wartek: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tugi: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu wartek: Sama-sama pak
Pak tugi: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tugi sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak tugi sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama : Iis nurlatifah
BalasHapusKelas : 9f
No absen :17
PJJ BAHASA INDONESIA
•CERPEN PANDEMI VIRUS CORONA•
Suasana pagi ini tampaknya mulai sepi, kegiatan banyak terhenti. Ya, sejak munculnya virus corona atau Covid-19 di Indonesia, berbagai daerah di seluruh pelosok negeri mulai menerapkan peraturan untuk menggalakkan gerakan #dirumahaja. Banyak kegiatan yang diliburkan, baik swasta maupun instansi pemerintah menggalakkan work from home untuk pekerjanya, hal tersebut membuat ruang gerak masyarakat semakin berkurang. Semua kegiatan dilakukan secara daring. Nyatanya, pandemi ini bukan hanya menggerogoti manusia saja, sektor ekonomi hingga pendidikan juga ikut merasakan dampaknya.
Udara yang berembus hari ini terasa sangat lembut menyentuh kulit. Saat wabah mulai mendunia dan kegiatan banyak diberhentikan, aku melihat berbagai berita mengenai kualitas udara di dunia semakin baik. Di tengah terpaan wabah, “mungkinkah” ini waktu bagi alam berusaha untuk memulihkan diri?
Waktu libur kian diperpanjang dan hari berganti hari, waktu libur berubah menjadi untaian untuk memulai beragam kisah berharga yang tak akan dapat dirasakan di lain hari. Di tengah situasi pandemi yang mulai banyak menggerogoti, banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan saat di rumah. Gerakan #dirumahaja bukanlah waktu untuk bersantai dan merebahkan diri. Aku, sebagai penggiat dunia menulis yang masih belajar dan mengasah diri, juga bukan dapat dikatakan penulis yang sangat ahli di bidang literasi, gerakan stay at home ini membuat ide kreatif lebih terasah.
Nama: Ferinanda Rizkamulia
BalasHapusKelas:9E
Absen:15
•Cerpen tentang virus Corona
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama : Alia Rahmadhani
BalasHapusKelas : 9E
No.absen : 3
Valerin dinyatakan positif terkena virus ini pada hari Minggu. Umurnya 17 tahun, bisa jadi apa yg Valerin alami berbeda dengan pasien positif lainnya, tergantung dari daya tahan tubuh, usia, dsb.
Satu minggu sebelum gejalanya muncul, Valerin pergi nonton konser . Saat itu ada seseorang yang terus-terusan batuk di depannya, ia mengira, sepertinya orang itulah yang menyebarkan virusnya. Sebenarnya Valerin sudah menggunakan masker, tapi tidak mengenakan pelindung mata, jadi mungkin virus itu menular melalui mata.
Sehari sebelum Valerin mulai merasakan gejala terkena virus Covid-19 ini, ia mengalami sakit perut yang parah, gejala sakitnya pun berbeda dengan apa yang sering diberitakan media. Malam itu, pas jalan naik tangga, Valerin terus-terusan kehilangan keseimbangan dan jatuh berkali-kali, padahal kepala tidak merasa pusing. Valerin saat itu menganggap karena kelelahan, agar ibunya tidak khawatir.
Keesokan harinya, Valerin merasa sekujur badan ini sangat lembab, suhu tubuh lebih tinggi dari biasanya serta mulai ada batuk-batuk kering. Malam sebelumnya Valerin juga mengalami nyeri dada. Makin hari, ia merasa sangat lemah dan mulai terasa ada sakit di bagian punggung. Kondisi tidak kunjung membaik, batuk dan makin memburuk, sehingga malam tadi dia merasa sangat cemas. Ibunya pun khawatir, lantas menanyakan keadaannya saat makan malam bersama.
Ibu : bagaimana keadaan mu? Ibu lihat kau sedang tidak baik-baik saja.
Valerin : Ya, memang. Aku merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi tubuhku, entahlah aku tidak tahu.
Setelah mendengar penuturan dari anak dan istrinya, Ayah gadis itu pun angkat bicara.
Ayah : ayah khawatir dengan keadaanmu sekarang, lebih baik kita ke rumah sakit untuk memastikan keadaanmu.
Valerin : tidak perlu, yah. Jika aku mengalami covid-19 pun akan disarankan untuk isolasi mandiri oleh dokter, kecuali jika aku sudah sangat parah.
Ayah : baiklah, semua wajib kenakan masker di dalam rumah dan sebaiknya hindari kontak fisik. Apa kalian mengerti?
Semua mengangguk setuju sambil memandang ke arah ayahnya yang sedang berbicara.
Pagi ini, gadis itu bangun dengan kondisi masih sangat kesulitan bernafas. Sekarang dia mulai memakai masker di dalam rumah, untuk mencegah penyebaran virusnya ke anggota keluarganya.
Tenggorokannya terasa sakit sekali, dan kulitnya menjadi sangat kering sebagaimana gejala-gejala yang sudah di sebutkan.
Untuk bernafas masih agak sulit, bisa jadi itu mungkin masih pengaruh dari virusnya. Jika kondisinya malah makin memburuk, Valerin pasti akan menelepon 111 (nomor telpon Layanan Kesehatan Nasional di UK). Dan jika Kamu tinggal di Inggris dengan gejala parah, pastikan untuk menelepon 111 juga! Batuknya belum mendingan, tetapi Valerin merasa tidak terlalu kelelahan, jadi sepertinya ada peningkatan yang baik.
Seminggu kemudian kondisinya semakin membaik. Jadi, buat siapapun yang sedang mengalami gejala-gejala ini, jangan terlalu khawatir dan panik seperti Valerin, Kamu akan sembuh.
Dari apa yang sedang dia alami sekarang, virus ini sepertinya mencapai puncaknya pada hari ke-3 atau ke-4 dari saat gejalanya muncul, dan ini cukup mengerikan. Memang suatu hal yang alamiah ketika paru-paru kamu terasa sakit karena kesulitan bernafas.
Saat ini adalah hari ke-8, energinya sudah benar-benar kembali, batuk yg di alaminya masih ada walaupun sudah berkurang, sehingga masih tetap harus jaga jarak dengan ibu, adik dan ayahnya. Paru-parunya masih terasa sakit sedikit, ketika ia menarik napas, jadi pastinya Valerin akan beristirahat saja sampai semuanya berakhir.
Nama : Juanda herdiansyah
BalasHapusKelas : 9F
No.absen : 19
Berpretasu di masa COVID 19
Senyum bahagia langsung terpancar
di wajah Brigitta Kayla Clarissa Alethea (7), salah satu siswa SD Marsudirini 77 Salatiga. Bagaimana tidak, di hadapannya berdiri sosok yang diidolakannya, yakni Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Sebab sebelumnya, Kayla telah menuliskan surat kepada Ganjar dan berharap Ganjar datang ke sekolahnya untuk melaunching buku cerpen karyanya dan teman-teman lain berjudul Kumpulan Cerita Anak, Kisah Perjalananku.
"Sebelumnya aku memang kirim surat ke Pak Gubernur supaya datang ke sini buat launching buku karyaku dan teman-teman. Ini buku tentang cerita-cerita kami," kata Kayla antusias..
Bocah cantik yang bercita-cita jadi youtuber itu tak menyangka, suratnya dibalas dengan kedatangan Ganjar secara langsung. Sebelumnya, ia tidak dikabari bahwa Ganjar benar-benar datang.
"Seneng sekali, karena bisa lihat langsung pak Ganjar. Terus nanti mau minta foto bersama. Semoga pak Ganjar bisa datang lagi ke sini dan semoga pak Ganjar sehat selalu," ibuhnya.
"Saya datang karena dapat surat dari Kayla. Saat saya baca suratnya, saya senyum-senyum sendiri dan memastikan bahwa ini unik. Kalau yang ngundang mahasiswa atau penulis buku terkenal kan sudah biasa, tapi ini anak-anak yang baru menulis sekali dua kali buku. Ini keren," kata Ganjar.
Ganjar bangga karena tradisi menulis di SD Marsudirini 77 Salatiga sudah menjadi kebiasaan. Guru-gurunya dengan telaten membimbing mereka menulis, dan menjadi karya buku itu.
"Tulisannya enteng-enteng saja, tentang pengalaman berlibur, perjalanan mereka dan bagaimana kisah di rumah. Ini bagus karena bisa mengajarkan tradisi menulis dan akhirnya meningkat menjadi tradisi membaca dan mengarang di kalangan siswa," ibuhnya.
Tradisi itu lanjut Ganjar bisa mengeluarkan imajinasi anak dan menambah literasinya. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan berprestasi untuk masa depan.
"Cara belajar seperti ini cocok diterapkan saat proses belajar jarak jauh. Daripada guru ngasih tugas yang sulit-sulit, anak-anak suruh cerita saja, disuruh dongeng tentang matematika, bahasa, kesenian dan lainnya. Bisa juga mereka diminta mengarang soal Covid-19, tentu akan menjadi pembelajaran yang menyenangkan," ayahnya.
Nama : Sarah Khadafi Ilyas
BalasHapusKelas : 9f
No.absen: 33
• Cerpen tentang pandemi covid 19
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama: HALIMAHTUSA'DIAH
BalasHapusKelas: IXD
Noabsen:11
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Muhammad Fahri Albar
BalasHapusKelas:9E
Absen:22
•Cerpen tentang Pandemi Covid-19•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu
Nama : Resya Marsella
BalasHapusKelas : 9E
Absen : 33
•
•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Muhamad Aprilliano
BalasHapusKelas:9E
Absen:18
Indah akan Tiba Waktunya
Panasnya siang seperti memanggang seluruh tubuh Pak Amat. Keringat mengalir deras di sela-sela topinya. Handuk yang melingkar di lehernya pun tampak basah. Pak Amat memegang ujung handuknya untuk mengelap keringatnya. Ia mendesah panjang melihat gerobak mi ayamnya. Gulungan mi yang berada di baskom baru berkurang dua. Biasanya saat makan siang, gulungan mi itu sudah hampir habis.
Sudah 7 bulan ini dagangannya sepi. Sejak virus corona datang, perlahan dagangannya menjadi sepi. Semakin hari semakin berkurang pembelinya. Pintu-pintu gang menuju permukiman ditutup sehingga ia tidak bisa keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain. Belum lagi ia harus berpikir ulang ketika harus masuk melalui gang utama. Semprotan disinfektan bisa saja menempel di mi atau sayurannya.
Terlalu panas, katanya dalam hati. Ia melihat sebuah pos ronda dan dengan cepat melaju ke arahnya. Ia duduk dan mengeluarkan sebotol air. Aduh, sampai kapan harus begini? katanya dalam hati lagi. Ini satu-satunya mata pencahariannya. Apa yang harus ia lakukan jika PSBB benar-benar diterapkan di kotanya. Otaknya seperti tak bisa berhenti berpikir mencari jalan agar ia dan anak-anaknya tetap bisa hidup selama wabah corona ini.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang mendekati gerobak mi ayamnya. "Pak, beli, Pak. Empat bungkus ya," kata salah seorang anak.
"Komplit ya?" tanya Pak Amat.
"Iya, Pak. Ekstra pangsit ya, Pak."
Salah satu anak yang duduk di boncengan mendekati gerobak mi ayam. "Sepi ya, Pak."
"Iya, mas. Tapi alhamdulillah masih ada yang beli kok," kata Pak Amat tersenyum terpaksa.
"Terus, kalau sisa, mi-nya diapakan, Pak? Bukannya mi hanya bisa bertahan sehari saja, Pak?"
"Sisanya dimakan sendiri, Mas. Ya mau bagaimana lagi, daripada terbuang sia-sia."
"Apa tidak bosan makan mi ayam setiap hari, pak?" tanya salah seorang anak yang lain.
"Ya bosan, Mas. Anak saya sampai bilang mukanya sudah mirip gulungan mi." Pak Amat tertawa.
Kedua anak itu terdiam melihat Pak Amat menyiapkan pesanan. "Yang sabar ya, Pak. Kalau nanti coronanya sudah pergi, pasti orang-orang jadi panic shopping. Setiap ada penjual lewat dibeli."
"Panic shopping?" tanya Pak Amat heran.
"Iya, Pak. Kalap mata karena lama di dalam rumah. Apa-apa dibeli," kata anak laki-laki itu.
"Iya, Pak. Bapak sebaiknya di rumah saja bila semakin sepi, Pak. Bapak juga harus menjaga kesehatan agar nanti bisa jualan lagi setelah situasi membaik, Pak," kata yang lainnya menimpali.
"Betul, Pak. Daripada rugi juga, Pak, sudah mengeluarkan modal dan harus makan mi ayam setiap hari."
Pak Amat terdiam mendengar saran kedua anak muda itu. Ada benarnya juga kata mereka. Ia terdiam sambil terus menyiapkan pesanannya.
"Ini, Mas," kata Pak Amat sambil memberikan bungkusan pesanannya.
"Harganya sama kan, Pak? Untuk Bapak saja kembaliannya," kata salah satu anak menyerahkan uang seratus ribuan.
"Ini banyak sekali, Mas," kata Pak Amat terharu.
"Kita juga jarang jajan kok, Pak," kata anak itu tersenyum. "Yang sabar ya, Pak. Allah tidak akan pernah menguji kita jika kita tidak mampu menghadapinya." Mereka pun berlalu.
Pak Amat terduduk lemas di pos rendah. Tiba-tiba airmatanya mengalir pelan. Ya Allah, kenapa aku harus mencemaskan hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan karena Engkau pasti menjamin rejekiku, katanya di dalam hati. Ia menunduk agak lama di pos ronda itu. Setelah agak tenang, ia mendorong gerobaknya pelan, menuju ke rumahnya.
Nama=Radiva Syahdini
BalasHapuskelas=9D
Absen=29
Tahun ini 2020 awalnya meriah tapi sejak munculnya virus Corona atau Covid 19 Semua berubah, Tempat yang biasanya ramai kini sepi karena pandemi , jalanan sepi, semua orang berada di rumah atas perintah pemerintah namun semakin hari orang² mulai bosan dgn Corona dan karena dirumah saja penghasilan mereka jadi sedikit bahkan ada yg di PHK seiring berjalannya waktu kantor kantor mulai dibuka tetapi sekolah blm boleh karena resiko. Pasar juga sudah buka tapi harus sesuai protokol kesehatan seperti ibu saya ketika pulang dari pasar.
Anak: Ibu sudah pulang
Ibu: iya ibu sudah pulang , tapi kamu jgn mendekat dgn ibu ya
Anak: kenapa Bu?
Ayah: Karena diluar banyak virus jadi kalo virusnya nempel di baju ibu harus mandi dan ganti baju
Anak: Hah? Virus apa itu?
Ibu: Virus Covid 19 nak dan itu sangat berbahaya karena menyerang saluran pernapasan dan bisa terjadi kematian
Anak: Oh gitu ya Bu Sekarang aku mengerti
Ayah: Bagus kalau begitu kamu harus jaga diri juga kalau mau keluar pakai masker
Anak: Baik Ayah!
Seperti percakapan diatas kita harus menjaga diri dgn baik namun kasus Corona di Indonesia belum jg mereda sampai sekarang semua masih Work from home sampai situasi membaik namun sekarang ada sedikit kelonggaran karena Mall dan tempat hiburan lainnya boleh dibuka tapi dibatasi hanya 50% saja kapasitas nya dan menggunakan masker selalu.
Nama : Jihan Elvia Laksono/16
BalasHapusKelas : IX-C
Pandemi Covid-19
Berita tentang virus Corona sudah sampai ke kampung Sari Asih. Memang virus ini menjangkiti negara Cina. Walau di sana sudah diantisipasi warganya, tentu penyebarannya tak bisa dielakan karena mobilitas manusia yang begitu cepat di area modern ini. Dan banyak berita yang simpang siur tentang virus ini membuat banyak masyarakat bingung.
Di saat penyakit ini menyebar berita bohong banyak beredar di negeri ini. Ini yang membuat suasana kampung Sari Asih mencekam. Sedikit orang batuk, langsung mereka disiolasi , tak boleh keluar dan makanpun harus di kamar saja.
Masyarakat disana sudah dilanda ketakutan.
Ketakutan itu membuat mencekam suasana desa. Semua orang saling mencurigai satu sama lain, kalau ada yang batuk atau sesak nafas. Aktivitas mereka sehari-hari tidak menggunakan masker. itulah yang membuat semakin banyak warga yang terkena covid 19.
"Kapan sih penyakit ini hilang. Lama sekali. uangku lama-lama habis"tukas pak Soleh.
"Iya, semua takut kena corona yang mematikan itu."jawab pak Ahmad.
"Tapi apa benar mematikan?" kata bu sarah khawatir
"Lah , katanya berita sih begitu. Baca saja di media online." jawab pak Ahmad
"Aduh, kalau begini terus hidup kita bagaimana ya?" kata bu sarah sangat khawatir
Semua warga merasa kebingungan dengan virus Corona ini. Mereka takut dengan apa yang diberitakan di media online.
Beberapa orang yang terkena batuk sudah diisolasi. Beberapa sembuh tapi yang batuk semakin banyak. Ini meresahkan warga. Semua yang terkena batuk terus disekap di kamar dan tak boleh keluar.
Warga semakin panik karena virus ini sangat amat berbahaya dan mudah menyebar.
"pak apa seharusnya kita melakukan karantina ya?tanya pak Ahmad"
"benar sih dinjurkan nya juga seperti itu, yasudah ayo kita ke pak RT untuk memberi usulan ini" jawab pak soleh
"ayo pak!"jawab pak ahmad semangat
Warga pun memutuskan untuk karantina di rumah.Dan kini angka orang positif covid 19 di kampung sari asih berkurang, banyak warga yang sudah sembuh dari covid 19.
"alhamdulillah ya pak sekarang orang yang terkena covid 19 di kampung kita sudah berkurang" kata Bu Sarah senang
"iya bu, sekarang juga kita bisa menjalani aktivitas seperti biasa walau masih PSBB" jawab Pak Soleh
"iya, sekarang pendapatan kita juga sudah lumayan" kata bu sarah
Sampai saat ini warga Kampung Sari Asih masih melalukan PSBB, Warga tetap melakukan aktivitas sehari hari tetapi tetap saling waspada, jaga jarak dan tentunya memakai masker.
Nama:Difar Dilah Pratama
BalasHapusKelas: 9f
Absen:10
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang
Nama:Nur Sayyida Rahmah
BalasHapusKelas:9F
No. Absen:30
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama Silviana rahmandani
BalasHapusKelas 9e
Absen 35
Tema : Virus Corona
Judul : Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama:muhammad iqbal
BalasHapusKelas:9E
Absen:23
Indah akan Tiba Waktunya
Panasnya siang seperti memanggang seluruh tubuh Pak Amat. Keringat mengalir deras di sela-sela topinya. Handuk yang melingkar di lehernya pun tampak basah. Pak Amat memegang ujung handuknya untuk mengelap keringatnya. Ia mendesah panjang melihat gerobak mi ayamnya. Gulungan mi yang berada di baskom baru berkurang dua. Biasanya saat makan siang, gulungan mi itu sudah hampir habis.
Sudah seminggu ini dagangannya sepi. Sejak virus corona datang, perlahan dagangannya menjadi sepi. Semakin hari semakin berkurang pembelinya. Pintu-pintu gang menuju permukiman ditutup sehingga ia tidak bisa keluar masuk dari satu gang ke gang yang lain. Belum lagi ia harus berpikir ulang ketika harus masuk melalui gang utama. Semprotan disinfektan bisa saja menempel di mi atau sayurannya.
Terlalu panas, katanya dalam hati. Ia melihat sebuah pos ronda dan dengan cepat melaju ke arahnya. Ia duduk dan mengeluarkan sebotol air. Aduh, sampai kapan harus begini? katanya dalam hati lagi. Ini satu-satunya mata pencahariannya. Apa yang harus ia lakukan jika PSBB benar-benar diterapkan di kotanya. Otaknya seperti tak bisa berhenti berpikir mencari jalan agar ia dan anak-anaknya tetap bisa hidup selama wabah corona ini.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang mendekati gerobak mi ayamnya. "Pak, beli, Pak. Empat bungkus ya," kata salah seorang anak.
"Komplit ya?" tanya Pak Amat.
"Iya, Pak. Ekstra pangsit ya, Pak."
Salah satu anak yang duduk di boncengan mendekati gerobak mi ayam. "Sepi ya, Pak."
"Iya, mas. Tapi alhamdulillah masih ada yang beli kok," kata Pak Amat tersenyum terpaksa.
"Terus, kalau sisa, mi-nya diapakan, Pak? Bukannya mi hanya bisa bertahan sehari saja, Pak?"
"Sisanya dimakan sendiri, Mas. Ya mau bagaimana lagi, daripada terbuang sia-sia."
"Apa tidak bosan makan mi ayam setiap hari, pak?" tanya salah seorang anak yang lain.
"Ya bosan, Mas. Anak saya sampai bilang mukanya sudah mirip gulungan mi." Pak Amat tertawa.
Kedua anak itu terdiam melihat Pak Amat menyiapkan pesanan. "Yang sabar ya, Pak. Kalau nanti coronanya sudah pergi, pasti orang-orang jadi panic shopping. Setiap ada penjual lewat dibeli."
"Panic shopping?" tanya Pak Amat heran.
"Iya, Pak. Kalap mata karena lama di dalam rumah. Apa-apa dibeli," kata anak laki-laki itu.
"Iya, Pak. Bapak sebaiknya di rumah saja bila semakin sepi, Pak. Bapak juga harus menjaga kesehatan agar nanti bisa jualan lagi setelah situasi membaik, Pak," kata yang lainnya menimpali.
"Betul, Pak. Daripada rugi juga, Pak, sudah mengeluarkan modal dan harus makan mi ayam setiap hari."
Pak Amat terdiam mendengar saran kedua anak muda itu. Ada benarnya juga kata mereka. Ia terdiam sambil terus menyiapkan pesanannya.
"Ini, Mas," kata Pak Amat sambil memberikan bungkusan pesanannya.
"Harganya sama kan, Pak? Untuk Bapak saja kembaliannya," kata salah satu anak menyerahkan uang seratus ribuan.
"Ini banyak sekali, Mas," kata Pak Amat terharu.
"Kita juga jarang jajan kok, Pak," kata anak itu tersenyum. "Yang sabar ya, Pak. Allah tidak akan pernah menguji kita jika kita tidak mampu menghadapinya." Mereka pun berlalu.
Pak Amat terduduk lemas di pos rendah. Tiba-tiba airmatanya mengalir pelan. Ya Allah, kenapa aku harus mencemaskan hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan karena Engkau pasti menjamin rejekiku, katanya di dalam hati. Ia menunduk agak lama di pos ronda itu. Setelah agak tenang, ia mendorong gerobaknya pelan, menuju ke rumahnya.
Nama:Anisa Fadhilatul Hasanah
BalasHapusKelas:IX-E
No Absen:05
Tugas:B.Indonesia
*Cerpen tentang Pandemi Covid-19*
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama:Sulthan Achmad Fauzan
BalasHapusKelas;9c
Nomor Absen:33
Cerita pendek tentang corona
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online
Nama:Ari Nugroho
BalasHapusKelas:9F
No.absen:5
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Nama:Kayla Salwa Hafisha
BalasHapusKelas:IX-E
No absen:17
Pagi sudah tiba, aku dan kak Roni bersiap untuk pergi ke pasar membeli sayuran yang dipesan ibu. Karna ibu sedang tidak enak badan jadi aku dan kak Roni yg pergi membeli sayuran. Aku dan kak Roni pun sudah siap dan sebelum berangkat kita tak lupa menggunakan masker, karna keadaan pandemi covid-19 belum mereda jadi aku dan kak Roni pun harus memahtuhi protokol dari Pemerintah.
Sesampai nya di pasar aku pun langsung membeli apa yang sudah ibu sarankan,dimulai dari membeli sayur bayam,jagung,wortel,cabai,tempe,dan bawang merah serta tahu. Semua barang sudah lengkap. Aku dan kak Roni pun pulang. Ketika tadi aku dipasar,ternyata masih banyak orang yang belum mematuhi protokol pemerintah dan masih menganggap remeh COVID-19 ini. Buktinya banyak yang tidak memakai masker dan masih banyak kerumunan kerumunan. Maka dari itu marilah kita ikuti aturan pemerintah dengan memakai masker dan hindari pemerintah agar pandemi ini cepat selesai dan semua berjalan normal seperti semula.
Nama:Naviz salman alfaredzy
BalasHapusKelas:9E
No absen:27
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Nama:Kayla Salwa Hafisha
BalasHapusKelas:IX-E
No absen:17
Pagi sudah tiba, aku dan kak Roni bersiap untuk pergi ke pasar membeli sayuran yang dipesan ibu. Karna ibu sedang tidak enak badan jadi aku dan kak Roni yg pergi membeli sayuran. Aku dan kak Roni pun sudah siap dan sebelum berangkat kita tak lupa menggunakan masker, karna keadaan pandemi covid-19 belum mereda jadi aku dan kak Roni pun harus memahtuhi protokol dari Pemerintah.
Sesampai nya di pasar aku pun langsung membeli apa yang sudah ibu sarankan,dimulai dari membeli sayur bayam,jagung,wortel,cabai,tempe,dan bawang merah serta tahu. Semua barang sudah lengkap. Aku dan kak Roni pun pulang. Ketika tadi aku dipasar,ternyata masih banyak orang yang belum mematuhi protokol pemerintah dan masih menganggap remeh COVID-19 ini. Buktinya banyak yang tidak memakai masker dan masih banyak kerumunan kerumunan. Maka dari itu marilah kita ikuti aturan pemerintah dengan memakai masker dan hindari pemerintah agar pandemi ini cepat selesai dan semua berjalan normal seperti semula.
nama: alya yumna faiha
BalasHapuskelas: 9C
no.absen: 6
Berita tentang virus Corona sudah sampai ke kampung Sari Asih. Memang virus ini menjangkiti negara Cina. Walau di sana sudah diantisipasi warganya , tentu penyebarannya tak bisa dielakan karena mobilitas manusia yang begitu cepat di area modern ini. Dan banyak berita yang simpang siur tentang virus ini membuat banyak masarakat bingung . Karena entah berita mana yang benar dan mana yang salah. Semua jadi satu .
Entah mengapa di saat penyakit ini menyebar berita bohong banyak beredar di negeri ini. Ini yang membuat suasana kampung Sari Asih mencekam. Sedikit orang batuk, langsung mereka disiolasi , tak boleh keluar dan makanpun harus di kamar saja. Pokoknya masarakat sana sudah dilanda ketakutan .
Ketakutan itu membuat mencekam suasana desa. Semua orang saling mencurigai satu sama lain, kalau ada yang batuk atau sesak nafas. Aktivitas mereka sehari-hari selalu menggunakan masker. Bahkan mencangkul di sawah mereka tertib menggunakan masker. Agar tubuh mereka sehat , mereka harus mengeluarkan kocek sedikit besar untuk membeli buah-buahan. Katanya buah-buahan ini banyak vitamin yang bisa jaga kesehatan.
"Kapan sih penyakit ini hilang. Lama sekali. Tahu gak uangku lama-lama habis buat beli buah-buahan,"tukas pak Soleh.
"Iya, semua takut kena corona yang mematikan itu."
"Tapi apa benar mematikan?"
"Lah , katanya berita sih begitu. Baca saja di media online."
"Aduh, kalau begini terus hidup kita bagaiamana ya?" Begitulah semua warga merasa kebingunan dengan virus Corona ini. Mereka takut dengan apa yang diberitakan di media online.
Beberapa orang yang terkena batuk sudah diisolasi. Bberapa sembuh tapi yang batuk semakin banyak. Ini meresahkan warga. Semua yang terkena batuk terus disekap di kamar dan tak boleh keluar . Tiba-tiba saja hampir di setiap rumah ada saja yang batuk. Dan semakin paniklah warga.
"Ini sudah wabah loh."
"Ini azab . artinya kampung ini penuh dengan orang-orang berdosa dan pantas diazab."
NAMA MUHAMAD SEPTIYAN ANUGERAH
BalasHapusKelas 9f
Absen 24
Sejak Desember 2019, dunia telah dihebohkan oleh penemuan virus baru di China. Virus tersebut dikenal dengan nama virus corona. Dengan cepat virus ini menginfeksi banyak orang dan menyebabkan kematian di China. Banyak pula yang hanya terinfeksi dan kemudian sembuh. Tetapi virus ini seperti berpindah tempat, mewabahi dari satu negara ke negara yang lain.
Hingga akhirnya wabah ini tiba di Indonesia pada awal Maret 2020. Meski tampak lambat penyebarannya, tetapi hal ini menimbulkan kecemasan di seluruh Indonesia. Pengalaman yang diperoleh dari mengikuti berita, telah membuat kelangkaan masker dan hand sanitizer.
Begitu pula dengan sekolahku. Sekolahku mulai 16 Maret 2020 melakukan aktivitas belajar di rumah. Keputusan ini diambil oleh pihak komite sekolah. Berbeda dengan sekolah sepupuku yang tetap masuk pada tanggal 23 Maret 2020, padahal kami di yayasan yang sama.
Minggu pertama belajar di rumah sangat menyenangkan. Jadwal pelajaran daring diberikan seperti jadwal pelajaran di sekolah. Kami juga diminta untuk mengirimkan tugas dan absensi daring. Selain itu, aku bisa belajar dan bermain bersama adik-adikku di rumah. Yang paling aku sukai adalah aku dapat belajar sambil memakan cemilan yang disediakan oleh ibu.
Minggu ini adalah minggu ketiga aku belajar di rumah. Teman-temanku mulai malas mengumpulkan tugas, karena hampir setiap pelajaran kami diberi tugas. Aku pun juga merasakan yang sama. Tidak bisa bertemu dan becanda dengan teman-teman, membuat belajar di rumah terasa membosankan.
Aku sungguh berharap permasalahan COVID-19 ini dapat segera menemukan titik akhir. Aku sedih ketika melihat berita di televisi banyak orang yang terinfeksi, bahkan meninggal. Aku sedih mendengar ibu cerita bahwa harga kebutuhan sehari-hari naik dan langka. Aku sedih mendengar temanku yang ayahnya penjual mi ayam, sepi dagangannya hingga mereka makan mi ayam setiap hari agar tidak basi. Tetapi, aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga cobaan ini segera berlalu.
Nama: Muhamad Satrio
BalasHapusKelas: 9E
No: 20
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama : Putra
BalasHapusKelas : 9D
No Absen : 28
Belajar Dari Rumah Selama Pandemi Virus Korona
Senin, 2 november 2020, suasana kota jakarta di selimuti awan mendung , tapi tidak mengurangi semangat kami untuk tetap belajar. Belajar yang tidak seperti biasa, kami sudah hampir 9 bulan ini tidak pergi ke sekolah dikarenakan adanya pandemi virus korona. Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Agar tidak mengurangi semangat kami untuk tetap belajar, saya dan teman-teman saya sering belajar kelompok. kadang kami melakukannya di aula panti, di kantor, di mushola atau di ruang komputer. hal ini kami lakukan untuk menghindari kebosanan.
Saya tinggal di panti asuhan, segala aktifitas kami penuh keterbatasan, apalagi selama pandemi ini. Tapi selalu ada pengasuh-pengasuh yang mendampingi dan menyemangati kami. seperti pagi ini saya mengerjakan tugas bersama 1 teman saya di kantor dengan di dampingi pengasuh saya yang bernama bu dewi.
Saya : "Selamat pagi bu dewi, saya hari ini ada tugas bahasa indonesia"
Bu Dewi :" Selamat pagi putra ,coba di buka tugasnya apa putra?"
Saya :" tugasnya disuruh membuat cerpen bu"
Bu Dewi :"oohh... kamu sudah absent atau belum?"
Saya :"belum bu"
BU Dewi :" ayo segera absent, hari ini absentnya kamu harus mengirim foto ya, randi tolong fotokan putra saat mengerjakan tugas ya"
Randi :" Baik bu"
Randi mengambil HP lalu memfoto saya
Putra :"terimakasih randi"
saya bergegas mengirimkan foto ini ke guru bahasa indonesia melalui wa
Bu dewi :" ayo putra sekarang kamu susun cerpennya"
saya :"saya belum ada ide bu, apa ya judulnya?"
Randi :" saya punya ide , bagaimana kalo judulnya belajar dari rumah selama pandemi korona "
bu dewi :" wahh, menarik itu "
Saya :" emmmmm, bagus itu"
saya segera menulis judul itu di hp saya, lalu saya mulai membuat cerpen yang sangat sederhana.
seperti ini kira-kira keseharian saya di pagi hari selama pandemi virus korona. saya belajar mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh bapak ibu guru secara online, jika mengalami kesulitan, saya bertanya kepada pengasuh saya atau kepada teman saya juga kepada guru-guru saya.
Nama : Desy Tri Astuti
BalasHapusKelas : 9E
No. Absen : 11
Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak rafka terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak rafka: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak rafka seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak rafka: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak rafka: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak rafka: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak rafka: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak rafka: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak rafka sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak rafka sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama : Silviana R
BalasHapusKelas : 9E
No. Absen : 35
Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak rafka terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak rafka: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak rafka seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak rafka: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak rafka: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak rafka: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak rafka: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak rafka: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak rafka sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak rafka sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama: MUHAMMAD FAHMI IDRUS
BalasHapusKelas: 9D
No absen: 17
PJJ BHS INDONESIA
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama : Nur Wafiq Azizah
BalasHapusKelas : 9e
No absen : 29
Tema : pandemi covid-19
Dengan adanya pandemi virus korona atau covid-19 pemerintah indonesia menerapkan sistim belajar,bekerka,dan beribadah dari rumah.
Virus korona ini sangat membahayakan seperti kematian sehingga semua kegiatan dianjurkan oleh pemerintah agar melakukannya dari rumah
Selama pandemi ini sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya sudah mengerjakan satu persatu dan saya sudah mengumpulkannya sesuai dengan waktu tugas yang diberikan.
Tugas tugas sekolah sangat banyak diberikan oleh guru,ada yang melalui aplikasi belajar seperti link,dan ada juga yang melalui watshap.apabila saya tidak mengerjakannya saya membaca buku paket yang dari sekolah dan melihat di internet.kadang pula saya meminta bantuan orang tua saya
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karna dapat belajar sambil bermain, tetapi juga kadang sangat membosankan karna banyak tugas yang diberikan.waktu belajar selama pandemi sudah selama 8 bulan dan itu benar benar sangat membosankan
Selama pandemi saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga tetapi saya tidak bisa bertemu dengan guru dan teman teman.
Lebaran tahun ini pun saya dan keluarga tidak bisa pulang kampung dan bertemu dengan keluarga di kampung dikarenakan virus korona ini bisa membawa dampak untuk keluarga di kampung.
Saya sangat berharap pandemi covid-19 ini cepat berlalu dan hilang dari kuka bumi ini agar saya bisa sekolah dan belajar seperti sedia kala.
Nama : Muhammad faiz
BalasHapusKelas : 9f
No. Absen : 26
•| Cerpen tentang Pandemi Covid-19 |•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama : Stri Sandu Kartika
BalasHapusKelas : 9E
No absen : 36
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu
Nama : Naurah Apsari Jannah
BalasHapusKelas : 9E
No absen : 26
Tema : Pandemi Covid 19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu
Nama : Andrianto Nugroho
BalasHapusKelas: 9D
Absen: 03
Judulnya:covid-10
Ratusan ribu petugas kesehatan,termasuk dokter dan staf paramedis,berjuang sepanjang waktu untuk menahan penyebaran virus corona di seluruh dunia.Mereka menghabiskan malam tanpa tidur dan bahkan mempertaruhkan hidup mereka sendiri untuk menyelamatkan mereka yang terinfeksi virus mematikan serta mereka yang dirawat di ruang isolasi rumah sakit untuk menunjukkan gejala pandemi.
Mereka mendapatkan pengalaman yang unik dan beragam ketika berurusan dengan pasien yang sebenarnya dan yang dicurigai dari semua kelompok umur dan memiliki sifat kepribadian yang beragam.Mereka juga berjuang untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan mereka yang hidup dalam isolasi medis. Nour Al-Jarbaa,seorang dokter di fasilitas kesehatan di Kerajaan Arab Saudi, adalah satu di antara mereka.
"Dokter,apakah saya akan mati karenacoronavirus?" kata Al-Jarbaa menirukan pertanyaan yang sering diulang pasien,seperti dikutip dari Saudi Gazette
“Kami berjuang untuk menenangkan perasaan mereka yang terganggu,dengan meyakinkan mereka bahwa tidak perlu khawatir karena kami menawarkan mereka perawatan terbaik.Ini membantu mengurangi kecemasan mereka dan membuat mereka tidur lebih baik,” kata Al-Jarbaa menambahkan.
Al-Jarbaa mengatakan dia dan rekan-rekannya bertemu dengan sejumlah orang yang terinfeksi virus yang datang dari Kuwait dan Bahrain dan mereka diisolasi."Kami mengambil sampel dari mereka dan mengirim beberapa dari mereka pulang yang hasil tesnya negatif,sementara yang lain tetap dalam isolasi meskipun tidak ada gejala," katanya menambahkan bahwa siapa pun yang dinyatakan positif langsung dikarantina.
Al-Jarbaa mengatakan sebagian besar pasien tidak mengetahui penyakit ini meskipun mereka tertular melalui kontak.“Orang yang terinfeksi berbeda satu sama lain dalam menerima berita karena beberapa dari mereka pada awalnya menolak dan kemudian menerima kondisi mereka dan setuju untuk perawatan.”
Al-Jarbaa menunjukkan bahwa perawatan dimulai dengan antibiotik.“Responsnya sangat baik ketika kami mulai dengan antibiotik untuk malaria," ujarnya.
Dia juga mengingat kisah salah seorang pasiennya.“Seorang pria muda membuat janji karena ada gejala corona dan dirujuk untuk diisolasi.Ketika saya memeriksanya dan berbicara kepadanya tentang riwayat kesehatannya,menjadi jelas bahwa dia tinggal di sebuah apartemen sendirian.Dia makan takeaway sehari sebelumnya,dan setelah makan dia mengalami gejala suhu tubuh tinggi dengan diare dan sakit tenggorokan," ujar Al-Jarbaa.
Al-Jarbaa melanjutkan kisahnya,"Saya mengambil sampel karena dia bepergian seminggu yang lalu,dan saya mengatakan kepadanya bahwa dia kemungkinan besar menderita keracunan makanan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Dia meminta saya meyakinkan ibunya karena dia sangat khawatir tentang kondisinya. Ketika hasil tes medis datang,ditemukan bahwa ia tidak terinfeksi virus," ujarnya.
Al-Jarbaa juga menceritakan pengalaman bertemu dengan pria muda lain yang datang menjerit dan meminta untuk segera menemui dokter.“Menjadi jelas bahwa dia tidak menderita penyakit itu, dan dia pergi ke rumahnya dengan tenang dan tenang,” tambahnya.
Nama:Fadly Alfajar Ramadhanullah
BalasHapusKelas:IX-F(9F)
No.Absen:13
Sampai hari ini kita memasuki seperempat tahun, tidak banyak kejadian berkaitan dengan bencana alam yang buruk, justru kita diperhadapkan dengan fenomena Virus Corona yang menelan banyak korban jiwa. Dalam release yang dikeluarkan oleh situs cnbcindonesia.com pada hari Sabtu, 7 Maret 2020, dikabarkan bahwa jumlah korban meninggal dunia secara nasional di China mencapai 3.070 jiwa. Belum termasuk negara-negara lain seperti Iran, Jepang, Korea Selatan, dan Italia.
Semua informasi tentang wabah ini begitu mudah diterima oleh masyarakat di seluruh dunia dalam bentuk tulisan, gambar, maupun audio visual. Dari yang memuat konten pemberitaan yang netral-netral saja sampai dengan yang ekstrim seperti video korban yang berjatuhan, kekacauan di beberapa sudut kota, keributan pada sebuah antrian pasien di Rumah Sakit, tenaga medis yang tampak kewalahan, serta sekelompok orang yang berusaha berebut bahan makanan didalam super market. Dan kita melihat efeknya yang begitu menggetarkan rasa nyaman kita, menggentarkan ketenangan hati kita, bahkan di beberapa tempat menghancurkan derajat manusia sebagai makhluk mulia.
Ketika wabah itu akhirnya masuk ke negeri kita, dengan diumumkan secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata RI, seolah kita sedang memulai sebuah perang besar menghadapi invansi kekuatan asing yang ganas dan brutal. Sayang sungguh disayang respon sebagian masyarakat di beberapa kota besar yang panik seolah tidak siap menghadapi perang melawan virus ini.
Beruntung pemerintah segera membuat rilis informasi sebanyak-banyaknya tentang fakta Virus Corona ini, demikian pula dengan korporasi-korporasi, para akademisi, para profesional, tokoh masyarakat dan tokoh agama juga melakukan hal yang sama agar kepanikan masyarakat tidak merajalela dan menimbulkan bencana baru yang akan memperparah keadaan.
Kekuatan media sosial sangat terasa untuk melawan serangan Virus "ganas" ini, dengan berbagai informasi dan edukasi yang benar, menyajikan antara fakta dan hoax, antara ketulusan dan komersialisasi, antara obyektifitas dengan tendensi. Dan akhirnya kita patut merasa lega sebab gejala panic buying mulai mereda, masyarakat mulai tenang dan mampu berpikir rasional, dan bisa diarahkan untuk mempersiapkan diri secara pribadi maupun secara kolektif untuk menghadapi virus ini.
Sungguh banyak pelajaran berharga dari kejadian seperempat tahun pertama, di 2020 ini. Sesungguhnya dari berbagai laporan negara-negara yang terkena virus ini,pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa dampak kematian pada pasien yang terinfeksi secara global diseluruh dunia ini adalah 3,4% sungguh jauh dibandingkan dengan dampak mematikan akibat diabetes melitus yaitu sebesar 63,50% (Pusdatin.kemkes.go.id, 2018). Tetapi mengapa di Wuhan China, Jakarta, Depok, dan berbagai kota lain kepanikan ini begitu kuat melanda? Seolah-olah serangan virus ini akan memusnahkan seluruh umat manusia.
Rupanya terjadi "kerjasama" yang sangat bagus antara serangan Virus Corona ini dengan serangan "Virus Informasi" yang masuk ke pikiran kita, sebuah "sinergi virus" yang sangat menakutkan bagi manusia. Faktanya virus ini menyerang fisik manusia, maka yang harus dilakukan adalah membuat fisik kita sehat dengan cara hidup yang sehat, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa fisik yang sehat harus dimulai dengan pikiran yang sehat, ini masalah mental.
Aksi rush atau panic buying di supermarket, merupakan kegagalan berpikir sehat didalam jiwa kemanusiaan kita. Pikiran yang sakit dipenuhi dengan kekuatiran, ketakutan, kecemasan, setara dengan dendam, benci, dan amarah yang membabi-buta.
Selanjutnya pikiran sakit ini akan mendorong kita untuk mengamankan diri sendiri, menihilkan keberadaan manusia lain, bahkan menjadikan orang lain sebagai ancaman yang layak dimusnahkan, persis dunia binatang dengan hukum rimbanya: yang kuat dialah yang menang.
Nama :novita
BalasHapusKls :IX-E
No absen:28
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama:Ferdi Maulana Saputra
BalasHapusKelas:9C
Absen:13
Judul : pandemi covid 19
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Sepertinya puasa dan lebaran tahun ini juga di rumah saja, saudara ibu yang di luar kota juga tidak dapat mudik ke kampung halaman karena kondisi sekarang, karena takutnya membawa virus saat di perjalanan.
Dan juga belajar dari rumah kadang membuat saya bosan, saya merindukan teman-teman. Tetapi keadaan sangat tidak memungkinkan. Saya harap keadaan cepat pulih dan kembali seperti semula.
Nama: ROBI WAHYUDISTIRA
BalasHapusKelas: 9E
No absen: 34
PJJ BHS INDONESIA
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Suci Ariyani
BalasHapusKelas:9F
No Absen:35
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama : Akhdan Faris Hazim
BalasHapusKls : IX E
Absen: 2
<• Cerpen tentang Pandemi Covid-19 •>
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama: Venanda Laudhya Rachman
BalasHapusKelas: 9F
No. Absen: 36
Corona Membunuh Manusia bukan Kemanusiaan
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak rafka terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak rafka: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak rafka seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak rafka: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak rafka: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak rafka: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak rafka: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak rafka: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak rafka sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak rafka sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama:Mutiara Aldeniasari
BalasHapusKelas:9f
Absen:27
•Cerpen tentang Pandemi Covid-19•
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu
Nama: Andes Pride Victor S
BalasHapusKelas:9e
No;04
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Ia membuka bungkusan itu, terlihat ada 5 buah gorengan yang sudah dingin. Ia melahap satu buah gorengan ubi sambil membaca tulisan yang ada dalam koran pembungkus tersebut.
nama:naufal adriansyah
BalasHapuskelas:9f
absen:28
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Muhammad Nabil
BalasHapusKls:9D
Absen:18
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Syahril
BalasHapusKelas:9D
No.absen:35
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Nama:nadia farhatun nisa
BalasHapusKelas:9E
No:25
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Nama : Fauzi Ahmad Fadhillah
BalasHapusKelas : IX-F (9F)
No. Absen : 15
Pandemi virus Corona
Dari adanya virus Corona atau covid-19, Indonesia mengadakan "stay at home" yang dimana semua kegiatan dikerjakan di dalam rumah. Hal itu terjadi karena virus Corona ini sangat berbahaya, tidak bisa dianggap remeh karena virus ini dapat menyebabkan kematian dan dapat menginfeksi seluruh kalangan, anak-anak maupun orang dewasa.
Makannya pemerintah mengadakan program "home learning" yang dimana murid belajar dari rumah menggunakan handphone, laptop, ataupun komputer. Tetapi ada seorang anak yang kesulitan dalam program tersebut, anak itu bernama Andi. Andi ini kesulitan dalam menjangkau kuota internet yang dimiliki. Andi tidak mempunyai kakak atupun adik, dia adalah anak tunggal. Dia memiliki ayah yang bekerja di kantoran, tetapi setelah adanya pandemi ini, ayah Andi terkena PHK yang menyebabkan ayah Andi tidak memiliki pekerjaan. Sedangkan ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga.
Karena peristiwa itu Andi sering sekali di tegur oleh gurunya, karena jarang mengerjakan tugas. Dia sering sekali meminta dibelikan kuota internet untuk belajar kepada kedua orang tuanya, tetapi orang tuanya tidak sanggup bahkan untuk kehidupan sehari-hari saja sudah susah apalagi untuk membelikan kuota internet untuk anaknya. Karena terlalu sering Andi tidak mengerjakan tugas, gurunya pun mendatangi rumah Andi, dan disitu pak guru bertemu dengan Andi dan ayahnya. Pak guru pun menanyakan penyebabnya, ayah Andi menjelaskan dengan sejujurnya dan ayah Andi meminta solusi dari pak guru.
Karena pak guru sering sekali mendengar cerita dan keluhan dari kebanyakan murid dan pemerintah juga sadar atas masalah tersebut maka di bagikan kuota internet untuk seluruh murid murid untuk belajar di dalam rumah agar tidak tertinggal pelajaran.
Dari solusi tersebut semua murid murid dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan benar, Andi pun senang dapat mengikuti pelajaran.
Nama:Muhammad Irfan Tresna
BalasHapuskelas:9c
No absen:23
Cerpen:"Belajar dari Rumah Karena Covid-19"
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 7 bulan kami belajar dari rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.
Nama:Oscar Julian
BalasHapusKelas:9D
Absen:27
Pandemi covid 19:
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah ± 8 bulan kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue/makanan dan dibantu oleh ibu.
Nama : Alya Fatimah
BalasHapusKelas :9F
Absen : 3
Bahasa Indonesia • Cerpen Tentang Pandemi Virus Corona
Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak tumin terus mengayuh sepedanya menjajahkan cilok dagangannya.
Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh.
Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya.
Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.
Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.
Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).
Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk.
Sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari beberapa desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.
Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak pak tumin. Tapi sayang, raga rentannya justru tak sepaham dengan inginnya. Kakinya mulai lelah mengayuh. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.
Pak Tumin: Punten bu ngiring calik.
Ibu warung: Mangga pak.
Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit memprotes keberadaannya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.
Mata sayunya sesekali melirik hamparan ubi goreng dan aneka gorengan lainnya. Tapi apa daya, ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat pak tumin seperti itu, si ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa iba
Ibu warung: Pak silahkan ambil saja pak
Pak tumin: Ah terimakasih bu, saya hanya numpang duduk saja
Karena merasa malu, tak berapa lama pak tumin pamit
Pak tumin: Ibu terimaksih
Ibu warung: Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak
Pak tumin: Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali
Ibu warung: Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan, saya tahu bapak lapar, dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak hehe
Pak Tumin: Ah terimaksih bu terimakasih…
Ibu warung: Sama-sama pak
Pak tumin: Kalau begitu saya pamit bu
Wajah pak tumin sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya.
Tapi ia berpikir bahwa jika cilok-cilok itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.
Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.
Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.
Pak Tumin sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.
Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.
Nama: farrel ihsan luthfi
BalasHapusKelas: 9F
No absen: 14
PJJ BHS INDONESIA
Dikarenakan adanya pandemi virus corona atau covid-19, Indonesia menerapkan sistem bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah.
Seluruh kegiatan dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja karena virus ini dengan cepat dapat menginfeksi banyak orang dan dapat menyebabkan kematian , begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar, mulai dari siswa maupun kalangan mahasiswa dianjurkan untuk belajar dari rumah dan tugas di berikan oleh guru-guru melalui online.
Sudah banyak tugas yang diberikan oleh guru dan saya mengerjakan satu per satu kemudian mengumpulkannya. Walaupun diberi waktu untuk mengumpulkan, tetap saja tugas saya menumpuk karena saya sering menunda untuk mengerjakannya. Setelah selesai mengerjakan, sudah ada tugas baru lagi yang diberikan.
Tugas yang diberikan ada yang melalui aplikasi belajar dan ada juga yang melalui wa. Apabila tidak bisa mengerjakannya atau saya belum mengerti saya biasanya melihat internet dan membaca buku paket yang telah diberikan dari sekolah.
Dan saat mengerjakan tugas matematika, saya kadang meminta bantuan ibu saya untuk mengerjakannya karena ada materi yang kurang saya mengerti. Saya tidak terlalu senang dalam pelajaran matematika.
Tetapi jika kita tahu rumusnya itu dapat memudahkan kita dalam mengerjakannya. Dan terkadang contoh soal dan soal latihan itu berbeda. Dalam mengerjakannya kita harus teliti karena jika salah tanda atau salah hitung, jawaban yang di dapat akan berbeda.
Belajar di rumah sedikit menyenangkan karena dapat mengerjakannya sambil bermain. Tetapi juga terkadang membosankan karena banyaknya tugas yang diberikan. Kami mulai belajar dari rumah sejak 16 Maret 2020 terhitung sudah 4 minggu kami belajar di rumah. Awalnya kebijakan work from home hanya ditetapkan 2 minggu tetapi diperpanjang dikarenakan wabah virus ini semakin parah.
Dikarenakan virus ini saya dan keluarga jadi sering menghabiskan waktu bersama dan kadang juga saya meminta bantuan dalam mengerjakan tugas. Setelah mengerjakan tugas yang sudah diberikan biasanya saya langsung menonton tv atau bermain hp.
Banyak orang yang mengeluh karena sekolah online dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan dan waktu yang dikumpulkan terlalu cepat. Kegiatan les saya juga diberlakukan di rumah saja.
Setiap hari selalu ada tugas baru yang diberikan, dan saya biasanya tidak langsung mengerjakannya karena saya masih mengerjakan tugas yang sebelumnya.
Jika semua tugas saya sudah selesai dan tidak ada yang bisa saya kerjakan jika tidak bermain hp biasanya juga saya membuat kue dan dibantu oleh ibu. Dan terkadang juga saya bermain game online.